SAMPIT — Ancaman kekeringan di musim kemarau tahun ini mendorong Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotawaringin Timur bergerak cepat. Sebanyak 12 kecamatan menjadi prioritas perkuatan sarana pengairan, terutama daerah yang selama ini rawan gagal panen akibat minimnya pasokan air.
Kecamatan Mana yang Paling Rawan Kekeringan?
DPKP Kotim memetakan sejumlah wilayah yang setiap tahun mengalami krisis air saat kemarau. Kecamatan Parenggean, Antang Kalang, dan Telaga Antang masuk kategori paling rawan karena sebagian besar sawahnya tadah hujan. Di tiga kecamatan itu, petani hanya bisa menanam sekali setahun.
Total luas lahan yang terdampak jika kemarau ekstrem diperkirakan mencapai 4.500 hektare. Angka ini naik 15 persen dibanding musim kemarau 2024 lalu.
Bentuk Penguatan Sarana Pengairan: Embung hingga Pompa Air
DPKP Kotim tidak hanya mengandalkan satu pendekatan. Beberapa desa akan mendapat bantuan pompa air untuk menyedot air dari sungai terdekat. Di titik lain, pemerintah akan membangun embung baru dan merehabilitasi saluran irigasi tersier yang rusak.
Kepala DPKP Kotim, Iwan Setiawan, menyebut perbaikan irigasi tersier menjadi prioritas karena saluran ini langsung menyentuh lahan petani. "Kami targetkan perbaikan rampung sebelum kemarau puncak pada Juli mendatang," ujarnya dalam rapat koordinasi pekan lalu.
Petani di Kotim Mulai Menggeser Jadwal Tanam
Dampak prediksi kemarau panjang sudah dirasakan petani di Kecamatan Parenggean. Beberapa kelompok tani memilih memajukan masa tanam ke Maret agar panen selesai sebelum puncak kekeringan. Langkah ini diambil setelah DPKP memberikan rekomendasi kalender tanam yang disesuaikan dengan prakiraan cuaca BMKG.
Di Desa Bapinang Hilir, petani mulai membersihkan saluran air secara gotong royong. Mereka khawatir jika pompa air tidak segera dioperasikan, bibit padi yang baru ditanam akan layu.
Berapa Anggaran yang Disiapkan?
DPKP Kotim mengalokasikan dana sebesar Rp 2,8 miliar dari APBD 2025 untuk program penguatan sarana pengairan. Sebagian besar digunakan untuk pengadaan 45 unit pompa air dan pembangunan 8 embung baru di desa-desa rawan kekeringan.
Iwan menambahkan, pihaknya juga mengajukan bantuan tambahan ke Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Jika disetujui, bantuan akan berupa pompa berkapasitas besar dan normalisasi sungai kecil di Kecamatan Telaga Antang.
Kapan Musim Kemarau Diprediksi Mulai?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya memprediksi awal kemarau di Kotim dimulai pada April 2025. Puncak kemarau diperkirakan terjadi antara Juli hingga Agustus dengan durasi lebih panjang dibanding tahun sebelumnya.
Kepala DPKP Kotim mengimbau petani tidak menunda pengolahan lahan. "Manfaatkan masa transisi ini. Begitu hujan mulai berkurang, air harus sudah tertampung di embung," kata Iwan.