KALIMANTAN TENGAH — Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal menempuh dua jalur untuk menarik Generasi Z terlibat dalam pembangunan desa, yakni pendampingan dan pemberdayaan. Salah satu instrumennya adalah Festival Duta Desa Gen Z yang sudah berjalan sebulan dan akan mencapai puncak pada Januari 2027. Kementerian juga menyiapkan kuota 45 ribu pemuda desa untuk dikirim ke Jepang.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menyampaikan strategi kementeriannya dalam acara Agrifood Forum 2026 di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin (19/10). Menurut Yandri, pendekatan terhadap generasi muda tidak cukup hanya dengan sosialisasi, tetapi harus lewat program yang melibatkan mereka secara langsung.
Dua Jalur: Pendampingan dan Pemberdayaan
Kemendes PDT menjalankan dua pola sekaligus. Pendampingan menyasar kapasitas individu dan kelompok muda di desa, sementara pemberdayaan mendorong mereka menjalankan usaha produktif di kampung halaman sendiri.
"Jadi Gen Z juga kita libatkan, bukan hanya sekedar ini, kami ada dua pola, pendampingan dan pemberdayaan," ujar Yandri dalam forum tersebut.
Pelaksanaannya ditempuh lewat sejumlah kegiatan, salah satunya Festival Duta Desa Gen Z. Ajang ini disebut sudah berjalan sekitar sebulan dan akan memuncak pada Januari 2027.
Festival Duta Desa Gen Z dan Target Perubahan Cara Pandang
Yandri menyebut festival itu dirancang agar generasi muda mengenal desa lebih dekat. Persoalan yang ingin diserang bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga anggapan bahwa tinggal di desa adalah pilihan yang kurang bergengsi.
"Kita ingin melibatkan Gen Z itu melek tentang desa, jangan mereka menganggap desa itu dipandang sebelah mata atau malu menjadi orang desa atau malu tinggal di desa," jelasnya.
Dalam diskusi dengan mahasiswa di sebuah kampus di Cilegon, Yandri mengaku menanyakan minat mereka untuk pulang ke desa. Ia juga membandingkan pendapatan warga desa dengan pekerja kota, lalu mengajak mahasiswa terlibat dalam pembuatan desa ekspor, desa tematik, dan desa wisata.
"Kita ingin memastikan perlu banyak contoh, karena kalau enggak ada contoh orang tidak percaya, makanya saya banyak kasih contoh anak-anak muda yang berhasil kembali ke desa dengan pendapatan yang mengalahkan orang kota," ungkap Yandri.
Program Pemuda Bangun Desa dan Kuota 45 Ribu ke Jepang
Selain berkeliling kampus, Kemendes PDT menjalankan Program Pemuda Bangun Desa, Bangun Indonesia. Program ini menyasar pemuda desa dengan kemampuan akademik baik yang terkendala biaya melanjutkan kuliah.
"Kita kirim ke Jepang, kami punya kuota sekarang 45 ribu. Kita cari pemuda-pemuda di desa itu yang dari sisi kemampuan akademiknya bagus, tapi mungkin tidak bisa melanjutkan kuliah, nah kita kirim ke Jepang," kata Yandri.
Skema pengiriman ke Jepang biasanya mencakup pelatihan keterampilan dan penempatan kerja di sektor tertentu. Bagi peserta, jalur ini menjadi alternatif pendidikan vokasi sekaligus sumber penghasilan valas yang bisa dikirim balik ke keluarga di desa.
Mengubah Anggapan Minder Menjadi Orang Desa
Seluruh rangkaian program itu diarahkan pada satu sasaran: mengubah pola pikir masyarakat agar tidak merasa rendah diri karena berasal dari desa. Yandri menilai anggapan itu tidak berdasar jika melihat asal sektor ekonomi utama Indonesia.
"Karena sejatinya, coba lihat konglomerat-konglomerat di Indonesia ini, hampir semua itu tidak besar di kota. Tapi, pertambangan ada di desa, perkebunan ada di desa, pertanian ada di desa, peternakan ada di desa," tutupnya.
Bagi pelaku usaha, arah kebijakan ini berimplikasi pada penyediaan tenaga kerja terampil di sektor pertanian, perkebunan, dan pariwisata desa. Rantai pasok komoditas yang selama ini berbasis di desa membutuhkan generasi pengelola baru agar nilai tambah tidak seluruhnya dinikmati di hilir perkotaan.