SAMPIT — Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan pemerintah hadir semaksimal mungkin memastikan api padam dan asap tidak menambah jumlah warga yang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Pernyataan itu disampaikan usai meninjau lokasi karhutla di Jalan Ir Soekarno atau Jalan Lingkar Utara Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur.
Peninjauan berlangsung Sabtu malam, setelah Menhut menyelesaikan agenda di Kabupaten Kotawaringin Barat. Ia didampingi Bupati Kotim Halikinnor, Kapolres Kotim, Dandim 1015/Sampit, perwakilan Korem 102/Pjg, OPD, Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim, dan para relawan.
Hujan Dua Hari Terakhir Bukan Hujan Alami
Raja Juli menyebut hujan yang turun dalam dua hari terakhir di wilayah itu merupakan hasil operasi modifikasi cuaca (OMC), bukan hujan alami. Operasi tersebut digelar BMKG dengan dukungan BNPB dan Kementerian Kehutanan, termasuk pendanaan dari kedua instansi.
Kendati begitu, pelaksanaan OMC bergantung pada ketersediaan bibit awan. Kondisi El Nino membuat awan hujan minim, terutama di Kalimantan Tengah bagian selatan.
”Kita melakukan operasi modifikasi cuaca. Jadi, kalau dua hari belakangan ada terjadi hujan, itu bukan hujan alami, tetapi operasi modifikasi cuaca,” ujar Raja Juli.
Pemerintah juga mengembangkan teknologi pembentukan awan menggunakan dry ice. Penelitian BMKG bersama Thailand masih dalam tahap pengembangan dan pengujian.
Jarak Pandang Terbatas, Water Bombing Tidak Dipaksakan
Di Kalimantan Tengah terdapat enam helikopter milik BNPB dan satu helikopter Kementerian Kehutanan, di luar armada perusahaan swasta. Namun kabut asap membatasi jarak pandang sehingga water bombing tidak bisa beroperasi optimal.
”Tetapi, karena jarak pandang yang terbatas, sehingga water bombing tersebut tidak bisa beroperasi. Kita tidak mau memaksakan karena apabila dipaksakan malah terjadi korban. Kita tidak akan mempertaruhkan nyawa saudara-saudara kita,” ungkapnya.
Helikopter Kementerian Kehutanan sempat bergerak dari Bandara Syamsudin Noor menuju Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan. Jarak pandang di kedua lokasi dilaporkan baik, tetapi helikopter terpaksa kembali ke pangkalan karena kondisi di sepanjang perjalanan tidak memungkinkan.
Menurut informasi terbaru yang diterima Menhut, satu helikopter TNI telah dikerahkan untuk mendukung pemadaman. Helikopter perusahaan swasta berhasil melakukan 16 kali pengeboman air pada hari yang sama.
Bara di Bawah Gambut Masih Menyala
Sebagian kebakaran terjadi di lahan gambut. Api yang tampak padam di permukaan masih menyisakan bara di bawah tanah sehingga berpotensi menyala kembali.
”Kalau kita pakai drone termal, atasnya tidak ada apa-apa, tetapi bawahnya masih merah seperti batu bara yang terbakar,” jelas Raja Juli.
Penanganan tidak hanya mengandalkan jalur udara. Personel TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan relawan terus melakukan pemadaman langsung di lapangan.
Dua Titik Kebakaran Jadi Perhatian di Kotim
Bupati Kotim Halikinnor melaporkan pemadaman di wilayahnya masih terkendala lokasi kebakaran yang jauh dari permukiman dan sulit dijangkau lewat jalur darat. Dua titik menjadi perhatian, yakni di Desa Ganepo Kecamatan Seranau serta Desa Camba Kecamatan Kota Besi yang berada di kawasan konservasi.
BMKG memperkirakan hujan alami belum merata di Kalimantan Tengah hingga November. Sejumlah wilayah bahkan baru menerima hujan pada dasarian ketiga November, seperti di kawasan Tanjung Puting.
Kementerian Kehutanan akan mengupayakan penambahan armada ke Kuala Pembuang agar pemadaman udara bisa menjangkau wilayah sulit diakses darat. Penambahan armada dikoordinasikan dengan BNPB sesuai kebutuhan lapangan.