PALANGKA RAYA — Selama sebulan terakhir, tidak ada helikopter water bombing yang beroperasi memadamkan karhutla di Kota Palangka Raya. Seluruh upaya pemadaman kini mengandalkan personel Satgas Darat yang berjibaku di lahan gambut terbakar sejak dua hari lalu.
Petugas memadamkan api bermodal tangki air berkapasitas 1.000 liter. Begitu air habis, mereka harus kembali ke sumber air untuk mengisi ulang. Saat itulah api kembali membesar akibat tiupan angin kencang di lokasi.
Kabut Asap Kuning Selimuti Palangka Raya Sejak Senin Sore
Kabut asap di Palangka Raya kembali menebal pada Senin (12/10/2026) sore. Warna kabut bahkan menguning. Kondisi serupa masih terpantau pada Selasa pagi ini.
Di Kota Palembang, Sumatera Selatan, kabut asap juga kembali menebal. Kabut sempat menipis pada Senin sore, tapi menebal lagi pada Selasa pagi. Jarak pandang di Kota Palembang pagi ini sekitar 400 meter dengan kualitas udara buruk.
Kasus ISPA Capai 10.400, Sekolah Masih PJJ
Dampak kabut asap terasa pada kesehatan warga. Data Dinas Kesehatan setempat mencatat kasus ISPA di Kota Palangka Raya mencapai 10.400.
Pemerintah daerah masih memberlakukan sistem pembelajaran jarak jauh bagi para peserta didik. Para siswa berpotensi mengikuti ujian tengah semester secara daring dari rumah masing-masing jika kondisi kabut asap tidak membaik.
Mengapa Water Bombing Tak Bisa Terbang?
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letjen TNI Suharyanto menjelaskan operasi pemadaman karhutla melalui udara di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan tidak dilakukan karena visibilitas rendah.
"Sementara untuk Satgas Udara, kami sudah coba bergerak baik dari Palangka Raya Tjilik Riwut maupun dari Samsoedin Noer Banjarmasin, sementara belum tembus karena visibility yang sangat tebal," jelasnya saat melaporkan perkembangan penanganan karhutla kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Senin.
"Dan di Kalimantan Tengah ini operasi-operasi udara, baik helikopter bombing, operasi modifikasi cuaca maupun pesawat komersial. sementara tidak dapat terbang karena visibility."
Di Sumatera Selatan, Satgas Udara baru bisa terbang pada Senin. Operasi rencananya dipadukan dengan modifikasi cuaca.
Harapan pada Hujan Alami Pertengahan Oktober
Suharyanto menyebut prediksi BMKG soal hujan alami yang mulai turun di pertengahan Oktober hingga November menjadi harapan penanganan karhutla.
"Mudah-mudahan nanti begitu prediksi BMKG sudah mulai turun hujan alami di pertengahan Oktober sampai dengan November dan selanjutnya, setelah musim hujan turun, tentu saja kondisi karhutla akan lebih baik," ungkapnya.
"Tapi sebelum itu kami siap untuk bekerja keras mengerahkan segala kemampuan yang kami miliki."