PALANGKA RAYA — Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menegaskan kebiasaan menabung adalah pintu masuk paling sederhana untuk membangun kecakapan finansial generasi muda. Menurutnya, literasi dan inklusi keuangan tidak bisa hanya menjadi wacana, melainkan harus dibiasakan sejak anak duduk di bangku sekolah.
“Literasi dan inklusi keuangan memiliki arti yang sangat penting. Kebiasaan menabung menjadi pintu masuk yang sederhana untuk membangun kecakapan tersebut,” ujarnya di sela kegiatan bertema “Merajut Masa Depan melalui Literasi dan Inklusi Keuangan”.
Mengapa Sekolah Rakyat Menjadi Titik Fokus?
Pemilihan Sekolah Rakyat Palangka Raya sebagai lokasi puncak peringatan bukan tanpa alasan. Lembaga jasa keuangan (LJK) menilai satuan pendidikan adalah ruang paling efektif untuk menanamkan kebiasaan mengatur uang sejak dini, sebelum kebiasaan buruk konsumtif mengakar.
Kepala Sekolah Rakyat Palangka Raya, Ranny Triayu Sintha, menyambut baik pelaksanaan edukasi tersebut. Ia menilai materi yang diberikan relevan dan mudah dipraktikkan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam membedakan kebutuhan dan keinginan.
Metode 40-30-20-10 Diajarkan Lewat Mini Games
Alih-alih sekadar ceramah, peserta diajak mengikuti edukasi interaktif melalui mini games. Materi yang disampaikan mencakup cara membedakan kebutuhan dan keinginan, metode pengelolaan keuangan 40-30-20-10, serta cara menentukan skala prioritas dalam menggunakan uang.
LJK di Kalteng juga memperkenalkan SimPel sebagai instrumen tabungan yang mudah dan terjangkau bagi pelajar. Edukasi dikemas secara interaktif agar peserta lebih mudah memahami manfaat menabung sekaligus pentingnya mengelola keuangan secara bertanggung jawab.
Data SimPel: Bukti Kebiasaan Menabung Menguat
Akumulasi data SimPel hingga Juli 2026 menunjukkan tren positif partisipasi pelajar. Di Kota Palangka Raya saja, tercatat 53.530 rekening dengan total nominal simpanan mencapai Rp 20,56 miliar. Angka ini mencerminkan bahwa kebiasaan menabung mulai menjadi gaya hidup di kalangan pelajar.
Primandanu menambahkan, momentum HIM menjadi pengingat bahwa budaya menabung perlu ditanamkan sejak usia sekolah. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan bersinergi menjadikan sekolah sebagai ruang untuk menumbuhkan generasi yang cerdas, mandiri, dan berdaya secara finansial.
“Momentum Hari Indonesia Menabung menjadi pengingat bahwa budaya menabung perlu ditanamkan sejak usia sekolah. Karena itu, mari bersinergi menjadikan sekolah sebagai ruang untuk menumbuhkan generasi yang cerdas, mandiri, dan berdaya secara finansial,” katanya.
OJK bersama LJK dan satuan pendidikan berkomitmen melanjutkan sinergi untuk memperluas literasi dan inklusi keuangan secara merata. Langkah ini diharapkan tidak hanya mendorong pelajar memiliki kebiasaan menabung, tetapi juga membentuk generasi muda yang tangguh dalam mengelola keuangan serta mempersiapkan masa depan.