PALANGKA RAYA — Tim penanggulangan kebakaran lahan Universitas Palangka Raya (UPR) langsung bergerak setelah mendeteksi kemunculan api di hamparan gambut kampus Yos Sudarso. Operasi pemadaman tidak berhenti di permukaan, tim kini memperketat patroli dan pembasahan lahan secara berkala untuk mengantisipasi api yang masih tersimpan di lapisan bawah tanah.
Kepala UPA Pengelola Lahan Gambut UPR sekaligus Koordinator Lapangan Tim Penanggulangan Kebakaran Lahan, Dr. Ir. Adi Jaya, M.Si., Ph.D., mengatakan kobaran api di permukaan sudah berhasil dikendalikan. Namun, ancaman terbesar justru berada di bawah tanah.
"Api permukaan sudah berhasil dikendalikan. Namun, kami tetap melakukan pemantauan dan pembasahan karena gambut yang kering masih menyimpan potensi api di bawah permukaan," ujar Adi.
Ancaman Smoldering di Lahan Gambut Kering
Kondisi lahan gambut yang kering membuat penanganan kebakaran tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Api yang tampak padam di permukaan belum tentu benar-benar hilang, karena masih berpotensi membakar lapisan gambut di bawah tanah secara perlahan.
Fenomena yang dikenal dengan istilah smoldering ini menjadi perhatian utama tim. Pembakaran lambat di bawah permukaan bisa memicu munculnya kembali titik api, terutama saat suhu meningkat dan angin bertiup kencang.
"Karena itu, tim tetap bersiaga. Kami melakukan pemantauan, patroli dan pembasahan di area yang dianggap rawan untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali muncul," tegasnya.
Gedung Kampus Strategis Jadi Prioritas Pengamanan
Penanganan cepat yang dilakukan tim berhasil mengendalikan titik api yang sempat mendekati kawasan strategis kampus. Beberapa aset penting yang diamankan antara lain Gedung Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut (PPIIG) serta Gedung Merah Putih.
Dalam operasi ini, UPR mengerahkan kekuatan dari berbagai unit. Mulai dari UPA Pengelolaan Lahan Gambut, PPIIG, Peat Techno Park (PTP), Tim Urusan Barang Milik Negara dan Rumah Tangga (BMN-RT), hingga relawan tanggap bencana dari unsur civitas akademika.
Perkuat Koordinasi dengan TNI, Polri, dan BPBD
UPR tidak bekerja sendiri dalam mengendalikan kebakaran. Koordinasi diperkuat dengan TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, petugas keamanan kampus, dan relawan untuk memperluas jangkauan pemantauan.
Sebagai langkah antisipasi, patroli titik panas (hotspot) ditingkatkan di seluruh hamparan lahan kampus, terutama kawasan gambut yang rentan kekeringan. Sarana pendukung seperti suplai air, tandon penampungan, dan pompa jinjing juga disiapkan di sejumlah titik strategis.
Adi menegaskan bahwa deteksi dini menjadi kunci utama dalam mencegah kebakaran meluas. "Semakin cepat titik api ditemukan, semakin besar peluang kita mengendalikan kebakaran sebelum meluas," pungkasnya.