SAMPIT — RSUD Murjani, rumah sakit rujukan utama di Kabupaten Kotawaringin Timur, menyadari masih adanya kesalahpahaman di kalangan warga terkait sistem antrean di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Pihak rumah sakit pun gencar melakukan sosialisasi agar masyarakat tidak lagi mempertanyakan mengapa pasien yang datang belakangan justru ditangani lebih dulu.
Mengapa Pasien yang Datang Duluan Belum Tentu Dilayani Lebih Dulu?
Penjelasan ini menjadi krusial karena seringkali memicu gesekan di ruang tunggu IGD. Prinsip yang diterapkan adalah triase, yaitu proses seleksi pasien berdasarkan tingkat urgensi medis. Bukan siapa yang lebih dulu mengantre, melainkan siapa yang kondisinya paling mengancam jiwa.
“Pelayanan di IGD tidak berdasarkan urutan kedatangan, tetapi sesuai tingkat kegawatan pasien,” demikian penegasan dari pihak RSUD Murjani dalam keterangannya. Pasien dengan kondisi kritis seperti henti jantung, gangguan napas berat, atau kecelakaan dengan cedera parah akan mendapatkan prioritas utama, meskipun baru tiba.
Bagaimana Sistem Prioritas Penanganan Pasien di IGD Bekerja?
Dalam praktiknya, sistem triase membagi pasien ke dalam beberapa kategori. Kategori resusitasi (merah) untuk pasien yang membutuhkan tindakan segera karena mengancam jiwa. Kategori urgensi (kuning) untuk kondisi serius namun masih bisa menunggu beberapa saat. Sementara kategori non-urgensi (hijau) untuk keluhan ringan yang tidak mengancam jiwa.
Pasien dengan kategori hijau, seperti demam ringan atau luka lecet, mungkin harus bersabar lebih lama jika pada saat bersamaan datang pasien kategori merah. Kebijakan ini bukan soal pilih kasih, melainkan standar medis yang berlaku secara nasional dan internasional untuk menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa.
Apa yang Harus Dilakukan Warga Saat ke IGD?
RSUD Murjani mengimbau warga untuk selalu jujur saat mendaftar dan menjelaskan keluhan utama kepada petugas. Informasi yang akurat membantu perawat triase menentukan kategori prioritas dengan tepat. Selain itu, warga diminta untuk tidak memaksakan diri meminta pelayanan lebih cepat jika kondisi termasuk non-urgensi.
Edukasi ini dinilai penting mengingat IGD kerap menjadi pintu masuk pertama pasien ke rumah sakit. Dengan pemahaman yang benar, diharapkan tidak ada lagi kesalahpahaman atau konflik antara pasien, keluarga, dan tenaga medis yang sedang berupaya memberikan penanganan terbaik sesuai standar kegawatan.