KALIMANTAN TENGAH — Pergerakan rupiah pagi ini kontras dengan sejumlah mata uang Asia lainnya yang justru menguat. Won Korea Selatan naik 0,11 persen, yen Jepang menguat 0,03 persen, dan dolar Singapura bertambah 0,02 persen. Sementara itu, mayoritas mata uang kawasan masih berada di zona merah, dengan ringgit Malaysia menjadi yang terlemah, turun 0,25 persen.
Eskalasi Timur Tengah dan Harga Minyak Jadi Beban Utama
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari situasi geopolitik global. Konflik terbaru di Timur Tengah memicu kekhawatiran pasar terhadap prospek perdamaian dan mendorong lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini menekan mata uang negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
"Eskalasi baru di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap prospek perdamaian dan mendorong lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini berpotensi menekan rupiah terhadap dolar AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Pergerakan Mata Uang Global Bervariasi
Di negara maju, pergerakan mata uang juga tidak seragam. Poundsterling Inggris menguat 0,03 persen, sementara dolar Kanada bergerak stabil. Di sisi lain, euro Eropa melemah 0,03 persen, dolar Australia terkoreksi 0,05 persen, dan franc Swiss turun 0,06 persen. Kondisi ini menunjukkan dolar AS masih perkasa di hadapan sebagian besar mata uang utama dunia.
Rentang Pergerakan Rupiah Hari Ini
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Level Rp17.900 menjadi resisten psikologis yang jika ditembus, berpotensi membuka ruang pelemahan lebih lanjut. Sebaliknya, level Rp17.800 menjadi support terdekat yang bisa menjadi area konsolidasi jika tekanan mereda.
Investasi mengandung risiko. Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan geopolitik dan pergerakan harga minyak sebagai indikasi arah rupiah selanjutnya.