SAMPIT — Perilaku "boti" di kalangan pelajar di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, bukan lagi sekadar tren yang luput dari perhatian. Fenomena ini sudah tampak di lingkungan sekolah, dengan sebagian remaja laki-laki mulai mengadopsi gaya berpakaian, tata rias, dan gestur yang lazim diasosiasikan dengan perempuan.
Sejauh Mana Fenomena Ini Terlihat di Sekolah?
Sejumlah kalangan di Sampit mengakui bahwa praktik ini tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Beberapa remaja terlihat percaya diri menampilkan diri dengan riasan wajah dan pakaian ketat di luar jam pelajaran, bahkan di area publik dekat sekolah. Guru dan staf sekolah pun mulai melaporkan adanya perubahan perilaku yang mencolok pada sejumlah siswa laki-laki.
Kekhawatiran utama bukan sekadar pada penampilan fisik, melainkan pada dampak psikologis dan sosial jangka panjang. Lingkungan sekolah yang semestinya menjadi tempat pembentukan karakter dinilai mulai terpapar pengaruh yang belum tentu sesuai dengan norma-norma lokal dan nilai-nilai kekeluargaan yang dianut masyarakat.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua dan Sekolah?
Para pengamat sosial dan pendidik di daerah menekankan bahwa persoalan ini membutuhkan pendekatan yang bijak, bukan justru tindakan represif yang bisa memicu trauma. Komunikasi antara orang tua dan anak menjadi kunci utama agar remaja tidak mencari validasi dari lingkungan yang salah.
Pihak sekolah juga diminta untuk tidak langsung menghakimi, melainkan menyediakan layanan konseling dan bimbingan yang lebih intensif. Pendekatan persuasif dan edukatif dinilai lebih efektif dalam jangka panjang dibandingkan dengan sanksi atau hukuman yang justru bisa mendorong perilaku semakin tertutup dan liar.
Mengapa Fenomena Ini Kian Terbuka di Sampit?
Belum ada kajian resmi dari Dinas Pendidikan setempat mengenai pemicu utama meningkatnya fenomena ini. Namun, beberapa guru menduga kuat faktor pengaruh media sosial dan konten digital dari luar negeri yang mudah diakses oleh anak-anak tanpa filter yang memadai. Minimnya pengawasan orang tua terhadap tontonan anak di gawai juga disebut sebagai faktor pendorong.
Di sisi lain, lingkungan pertemanan yang permisif dan kurangnya figur panutan laki-laki di sekitar remaja turut memperkuat tren ini. Para orang tua diimbau untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, serta tidak ragu berkonsultasi dengan guru atau psikolog jika menemukan tanda-tanda yang mengkhawatirkan.