SAMPIT, TINTABORNEO.COM - Kemarau panjang mulai memukul usaha petani hortikultura di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Keterbatasan air membuat tanaman sulit tumbuh, sementara waktu dan biaya penyiraman justru meningkat.
Muhammad Hasan, petani hortikultura di Kelurahan Mentawa Baru Hulu, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, merasakan dampaknya lebih dari dua bulan terakhir. Lahan seluas [sebutkan luas jika ada di bahan, jika tidak, hapus kalimat ini] miliknya kini menjadi saksi bisu kerasnya musim.
Berbagai jenis sayuran ia tanam, mulai dari kangkung, sawi, bayam, hingga cabai dan kemangi. Namun, hasil panennya jauh dari kata maksimal dibandingkan saat cuaca normal.
Daun Menguning, Omzet Merosot
Tanaman yang seharusnya hijau subur justru tampak kuning dan kekurangan air. Panasnya cuaca memperparah kondisi, membuat lahan kering dan produksi merosot tajam.
“Ekonomi menurun. Tanaman tidak sehat, kuning, kekurangan air, cuaca panas. Ekonomi agak tidak seperti dulu lagi,” keluh Hasan.
Penurunan paling terasa jelas dari omzet hariannya. Jika di masa normal hasil penjualan menyentuh angka sekitar Rp300 ribu, kini pendapatan tersebut jauh dari kata mudah untuk digapai.