Pencarian

Onimusha Way of the Sword Review: Sistem Issen Bikin Combat Menuntut Presisi

Senin, 31 Agustus 2026 • 22:56:06 WIB
Onimusha Way of the Sword Review: Sistem Issen Bikin Combat Menuntut Presisi
Pemain menunjukkan mekanik issen saat menangkis serangan musuh dalam gim Onimusha: Way of the Sword.

KALIMANTAN TENGAH — Onimusha: Way of the Sword, judul terbaru Capcom yang terinspirasi dari kehidupan Miyamoto Musashi, hadir dengan pendekatan yang jauh dari sekadar aksi hack-and-slash biasa. Gim ini mengajak pemain memahami bahwa kemenangan tidak datang dari tekanan agresif, melainkan dari kemampuan bereaksi dan memanfaatkan momen yang tepat.

Sistem Issen: Seni Menunggu dan Membalas

Inti pertarungan berada pada mekanik issen — counter yang aktif saat pemain menekan tombol serangan ringan atau berat tepat ketika musuh melayangkan serangan. Gerakan ini mirip parry di sejumlah gim aksi lain, tetapi eksekusinya lebih bergantung pada momentum dan observasi.

Capcom bahkan merekrut pendekar asli untuk motion capture dan menyempurnakan gerakan. Hasilnya, serangan dasar terasa kurang bertenaga dan sengaja dibuat kaku. Itu bukan bug, melainkan desain: serangan biasa hanya alat untuk mengelabui atau membuka pertahanan, bukan pembunuh utama.

Serangan mematikan justru muncul setelah issen, deflection, atau dodge yang sukses. Dengan memaksa musuh mengeluarkan stamina dan frustrasi lewat serangan meleset, pemain membuka celah fisik dan psikologis. Skema ini lebih menonjolkan kemampuan membaca daripada sekadar akrobat, sebagaimana ajaran Musashi yang lebih menekankan aplikasi daripada atraksi.

Telegraf Musuh: Detail yang Melebihi Standar FromSoftware

Musashi dalam The Book of Five Rings menulis, "Perhatikan bahkan hal-hal sepele." Capcom tampaknya menerjemahkan prinsip ini ke dalam animasi musuh. Bahkan musuh biasa memiliki telegraf yang sangat rinci, dengan gerakan yang bisa dibaca penuh sebelum serangan dilancarkan.

Ketelitian ini membuat banyak musuh dari gim besutan FromSoftware terlihat dangkal bila dibandingkan. Setengah perjalanan, pemain yang sudah terbiasa akan mulai merasakan alur — melihat rute di kota Kyoto yang hancur hanya dengan mengandalkan insting dan refleks yang terasah. Ini adalah power fantasy yang tersusun rapi, tetapi hanya untuk mereka yang benar-benar menguasai sistemnya.

Eksplorasi Semi-Terbuka: Hadiah dan Gangguan yang Kontras

Area di luar pertarungan tidak sepenuhnya linear maupun open-world. Pemain bisa memasuki zona dengan ukuran sedang untuk menyelesaikan side mission yang monoton. Aktivitas ini sebenarnya memberi pemahaman lebih soal invasi genma — makhluk dari alam lain yang hendak menguasai dunia manusia — tetapi justru mengurangi fokus.

Bagian-bagian yang lebih linear, semacam dungeon legacy dengan jalur sempit, terbukti lebih efektif. Capcom akan lebih diuntungkan jika mempertahankan struktur terarah ketimbang melebarkan ruang yang terasa kosong. Namun eksplorasi tetap memberi insentif berupa item dan lore, jadi tidak semuanya patut dilewati.

Kesulitan Ekstrem: Bahasa Visual yang Membuat Adil

Level kesulitan gim ini bukan untuk semua orang. Beberapa pemain akan merasa sistem ini cenderung membuat mereka menunggu momen alih-alih menyerang. Penanda visual — kilatan merah untuk serangan yang tak bisa di-block, biru menyala untuk serangan yang hanya bisa dihindari — bisa dibilang sekadar "Simon Says" versi modern.

Namun Capcom berhasil memakai kode visual yang sudah tertanam di genre ini selama lebih dari satu dekade. Pertarungan terasa seperti pasang surut air laut: selalu berubah, menuntut pembacaan konstan, dengan setiap keputusan berdampak pada kelangsungan hidup. Ada rasa adil di balik kerasnya tantangan — selama pemain mau belajar dari setiap kekalahan.

Onimusha: Way of the Sword bukan sekadar gim aksi lain. Ia adalah ujian kesabaran yang menghargai pemikiran taktis, mirip seperti cara Musashi memandang strategi perang. Bagi yang sanggup menyesuaikan diri, pengalaman bertarung di sini terasa lebih dalam daripada kebanyakan game sejenis seperti Sekiro atau Nioh. Namun bagi yang menginginkan aksi cepat dan brutal, gim ini bisa menjadi tembok yang sulit ditembus.

Follow monitorkalteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: eurogamer.net

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks