KALIMANTAN TENGAH — Amran Sulaiman membawa usulan kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi khusus petani ke rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI. Kementan menilai kebutuhan energi murah di sektor hulu sangat mendesak karena mempengaruhi biaya produksi pangan.
Belum ada keputusan resmi dari pemerintah ataupun DPR. Usulan ini baru masuk tahap pembahasan awal, sehingga petani belum bisa mengajukan permohonan apa pun.
Berapa Kuota yang Diminta?
Dalam rapat tersebut, Amran meminta jatah khusus petani sebesar 1 juta hingga 1,5 juta kiloliter. Ia juga meminta harga BBM itu disubsidi berbeda dari harga umum.
"Kami meminta jatah, ada jatah kita berapa? 1 juta? 1,5 juta (kilo liter) untuk petani. Kami meminta khusus untuk harga khusus, harga subsidi untuk petani," kata Amran di hadapan anggota Komisi IV DPR RI.
Menurut Kementan, pasokan solar yang terjangkau menentukan kelancaran operasional alat mesin pertanian dan pompa air sawah. Tanpa energi murah, beban petani di lapangan bisa bertambah.
Mengapa SPBU Khusus Petani Sulit Terwujud?
Sebelumnya Kementan sempat mengusulkan pembangunan SPBU khusus di kawasan pertanian. Rencana itu menemui hambatan.
Berbeda dengan nelayan yang aktivitasnya terpusat di pelabuhan, lahan pertanian di Indonesia tersebar luas. Kondisi geografis ini menyulitkan penentuan titik SPBU agar bisa dijangkau semua petani.
Kementan pun meminta sistem distribusi energi yang lebih fleksibel. Penyaluran harus disesuaikan dengan kondisi lapangan agar tepat sasaran.
Listrik Masuk Sawah: Alternatif Pengganti Solar
Seiring usulan BBM subsidi, Amran mendorong program "Listrik Masuk Sawah". Program ini dirancang untuk mengalihkan pompa air sawah dari bertenaga solar menjadi bertenaga listrik.
Klaim Kementan, biaya operasional harian petani bisa terpangkas dan ketergantungan pada bahan bakar fosil berkurang. Jaringan listrik hingga ke pelosok sawah menjadi syarat utama program ini.
Target Produksi Beras 34 Juta Ton pada 2027
Di hadapan Komisi IV DPR, Amran memaparkan peta jalan Kementan yang berorientasi pada peningkatan produktivitas. Salah satu targetnya, produksi beras nasional mencapai 34 juta ton pada 2027.
Kementan juga menargetkan kenaikan produksi jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, dan cabai. "Penyediaan energi dengan harga bersahabat dan pasokan yang terjamin menjadi kunci utama keberhasilan target tersebut," ujar Amran.
Usulan ini belum mengatur mekanisme penyaluran, kriteria penerima, maupun jadwal pelaksanaan. Informasi resmi akan disampaikan melalui kanal Kementan dan DPR setelah ada keputusan final.