PALANGKA RAYA — Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Tengah mencatat 2.222 kejadian karhutla sejak 1 Januari hingga 30 Agustus 2026, dengan total luas area terbakar mencapai 6.358,71 hektare. Selama periode yang sama, sebanyak 49.551 titik panas (hotspot) terpantau di wilayah provinsi ini.
Angka tersebut menjadi latar belakang digelarnya apel gelar pasukan penguatan penanganan karhutla yang dipimpin langsung Gubernur Agustiar Sabran di halaman Istana Isen Mulang, Palangka Raya, Senin (31/8/2026).
Empat Target Penanganan Karhutla Kalteng
Dalam arahannya di hadapan personel gabungan, Agustiar menyampaikan empat sasaran utama yang harus dicapai dalam operasi penanganan karhutla tahun ini. Keempat target tersebut adalah karhutla terkendali, masyarakat terlindungi, lingkungan terjaga, dan Kalimantan Tengah bebas dari kabut asap.
"Target kita jelas, karhutla terkendali, masyarakat terlindungi, lingkungan terjaga, dan Kalteng bebas dari kabut asap," tegasnya di hadapan peserta apel.
Gubernur: Api Tidak Padam dengan Saling Menyalahkan
Agustiar menekankan bahwa penanganan karhutla tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia meminta seluruh elemen, baik pemerintah daerah, TNI/Polri, Manggala Agni, relawan, hingga masyarakat, bergerak bersama melalui semangat gotong royong dan kolaborasi.
"Yang kita perlukan adalah semangat kerja sama, gotong royong, dan kolaborasi. Semua elemen harus bergerak bersama," katanya.
Ia juga mengingatkan agar semua pihak fokus pada upaya pemadaman dan perlindungan masyarakat, bukan mencari kesalahan satu sama lain. "Kondisi saat ini bukan waktunya mencari siapa yang salah. Api tidak akan padam dengan saling menyalahkan dan asap tidak akan hilang dengan perdebatan," ujarnya.
Keselamatan Personel Jadi Prioritas Utama di Lapangan
Di tengah tingginya intensitas kebakaran, Agustiar memberikan instruksi tegas kepada personel yang bertugas di lapangan. Ia meminta setiap petugas mengutamakan keselamatan diri, mematuhi prosedur operasi standar (SOP), dan menggunakan alat pelindung diri (APD) secara memadai.
"Utamakan keselamatan. Ikuti SOP yang diberikan, gunakan APD yang memadai, jangan bertindak sendiri dan jangan memaksakan diri," pesannya kepada seluruh personel.
Menurutnya, keberhasilan operasi penanganan karhutla tidak hanya diukur dari berhasil atau tidaknya api dipadamkan. Perlindungan terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan juga menjadi indikator penting, di samping keselamatan para petugas di lapangan.
"Keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya ketika api bisa dipadamkan, tetapi juga bagaimana masyarakat terlindungi, lingkungan terjaga, dan seluruh personel dapat kembali dengan selamat," pungkasnya.