SAMPIT — Pelaksana tugas Kepala Bapenda Kotim Abdul Rahman Ismail mengatakan, langkah ini diambil karena biaya transportasi dari kecamatan ke Sampit kerap lebih besar dari nominal pajak yang harus dibayar. “Program ini merupakan solusi nyata agar warga di pelosok tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke Sampit hanya untuk menunaikan kewajiban perpajakan mereka,” kata Ismail di Sampit, Rabu.
Ongkos Perjalanan Lebih Mahal dari Pajak Kendaraan
Ismail mencontohkan, biaya akomodasi dari pelosok Kotim menuju Kota Sampit bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Sementara itu, nilai pajak kendaraan yang harus dibayarkan terkadang berada di bawah angka tersebut. “Sehingga keberadaan layanan keliling ini bisa menjadi alternatif yang sangat meringankan beban finansial masyarakat,” ujarnya.
Respons Positif Warga Cempaga Hulu
Layanan ini sudah diuji coba di Kecamatan Cempaga Hulu pada 8-10 Juni 2026 lalu. Antrean warga yang hendak membayar pajak langsung memadati lokasi. Bapenda menilai cara ini efektif mendorong kepatuhan masyarakat yang sebelumnya enggan karena jarak dan ongkos.
Sistem Online Belum Sepenuhnya Dijangkau Warga Pedalaman
Meski pemerintah daerah sudah menyediakan sistem pembayaran pajak online, Ismail mengakui masih banyak warga di pelosok yang kurang memahami teknologi. “Kegiatan tersebut juga sebagai upaya meningkatkan kesadaran dan kepatuhan masyarakat terhadap pentingnya pajak daerah sebagai sumber pembangunan,” ucapnya.
Pajak Kembali ke Warga Lewat Infrastruktur
Bapenda Kotim berkomitmen melanjutkan program keliling ke berbagai kecamatan agar akses pelayanan perpajakan semakin merata. Menurut Ismail, setiap rupiah yang dibayarkan masyarakat akan kembali dalam bentuk pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, dan program pemerintah lainnya. “Kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi masyarakat. Mari bersama-sama mendukung pembangunan daerah melalui kepatuhan membayar pajak,” demikian Ismail.