Pencarian

Pemkab Kotim Siapkan Ritual Tiwah dan Mamapas Lewu Jadi Agenda Wisata Budaya Tahunan Mulai 2027

Rabu, 17 Juni 2026 • 05:38:31 WIB
Pemkab Kotim Siapkan Ritual Tiwah dan Mamapas Lewu Jadi Agenda Wisata Budaya Tahunan Mulai 2027
Pemkab Kotim siapkan ritual Tiwah dan Mamapas Lewu sebagai agenda wisata budaya tahunan mulai 2027.

SAMPIT — Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim, Ramadansyah, mengungkapkan rencana tersebut mencuat setelah audiensi antara Bupati Kotim dengan Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan (MD-AHK) Kotim. Pembahasan difokuskan pada pengembangan kegiatan berbasis adat dan religi agar bisa dijadwalkan secara tetap setiap tahun.

Mengapa Pemkab Kotim Butuh Jadwal Tetap untuk Tiwah dan Mamapas Lewu?

Selama ini, pelaksanaan dua ritual besar masyarakat Dayak itu masih bergantung pada hibah yang diberikan kepada kelompok adat tertentu. Dengan masuknya agenda daerah, pendanaan akan dikelola lebih terstruktur melalui program daerah dan disalurkan lewat lembaga khusus seperti MD-AHK.

"Kalau sebelumnya kan hibah itu diberikan kepada kelompok adat yang melaksanakan ritual tersebut, namun kedepannya hibah itu bisa disalurkan lewat lembaga khusus contoh MD-AHK tadi," jelas Ramadansyah di Sampit, Selasa.

Potensi Wisata: Satu-satunya Agenda Budaya Terjadwal di Kalteng

Ramadansyah menilai Tiwah dan Mamapas Lewu memiliki karakteristik unik karena menggabungkan unsur adat, budaya, dan keagamaan. Ia optimistis ritual ini bisa menjadi satu-satunya agenda budaya dan keagamaan yang terjadwal secara tetap di Kalimantan Tengah.

"Ini bisa menjadi satu-satunya agenda budaya dan keagamaan yang terjadwal secara tetap di Kalimantan Tengah. Karena itu potensinya sangat besar untuk menarik wisatawan," ujarnya.

Disbudpar Siapkan Paket Wisata Terintegrasi dengan Tanjung Puting

Disbudpar Kotim mulai menyusun konsep pengembangan wisata terintegrasi dengan daerah lain. Salah satunya menghubungkan agenda budaya di Sampit dengan destinasi wisata unggulan Tanjung Puting di Kabupaten Kotawaringin Barat.

Dengan jadwal pelaksanaan yang sudah pasti, wisatawan domestik maupun mancanegara bisa mengatur perjalanan jauh-jauh hari. "Kalau tanggalnya sudah tetap, promosi akan lebih mudah dilakukan. Wisatawan yang datang ke Kalimantan Tengah bisa sekaligus mengatur kunjungan ke Sampit untuk menyaksikan Tiwah maupun Mamapas Lewu," lanjutnya.

Dampak Ekonomi: UMKM, Hotel, dan Transportasi Bakal Terdongkrak

Pemkab Kotim optimistis agenda tahunan ini akan memberi dampak ekonomi luas bagi masyarakat. Sektor perhotelan, UMKM, jasa transportasi, hingga usaha masyarakat lainnya diprediksi bakal bergerak.

"Kalau kegiatan ini masuk agenda daerah dan dipromosikan secara besar-besaran, tentu akan berdampak pada sektor perhotelan, UMKM, transportasi, dan usaha masyarakat lainnya," kata Ramadansyah.

Apalagi, akses transportasi udara menuju Sampit kini bertambah dengan kehadiran maskapai Super Air Jet. Hal ini dinilai memudahkan mobilitas wisatawan dari berbagai daerah untuk menyaksikan langsung prosesi adat dan keagamaan masyarakat Dayak.

Peran MD-AHK: Menjaga Kemurnian Ritual Adat

Dalam pelaksanaan nanti, pemerintah daerah tetap akan melibatkan MD-AHK sebagai pihak yang memahami tata cara ritual dan ketentuan adat. Ramadansyah menegaskan unsur adat dan keagamaan dalam kegiatan tersebut tidak dapat dipisahkan.

Keterlibatan tokoh adat dan keagamaan menjadi bagian penting agar prosesi tetap berjalan sesuai nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Ke depan, Tiwah dan Mamapas Lewu diharapkan tidak hanya menjadi simbol pelestarian budaya, tetapi juga ikon wisata yang melengkapi agenda besar daerah seperti Festival Habaring Hurung.

"Kalau ini terlaksana, maka akan menjadi agenda budaya dan keagamaan yang unik serta berpotensi menjadi satu-satunya di Kalimantan Tengah," demikian Ramadansyah.

Bagikan
Sumber: kalteng.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks