Pencarian

Petani Sawit di Kotawaringin Timur Desak Pemerintah Stabilkan Harga TBS, Hasil Jual Anjlok

Jumat, 29 Mei 2026 • 19:04:27 WIB
Petani Sawit di Kotawaringin Timur Desak Pemerintah Stabilkan Harga TBS, Hasil Jual Anjlok
Petani sawit di Kotawaringin Timur menuntut stabilisasi harga TBS agar tidak merugi.

SAMPIT — Petani kelapa sawit di Kabupaten Kotawaringin Timur menyuarakan desakan kepada pemerintah daerah dan pusat agar segera mengintervensi harga tandan buah segar (TBS) yang dinilai tidak layak. Kondisi ini membuat banyak pekebun, terutama yang memiliki lahan sempit, terancam merugi lantaran biaya panen dan pupuk tidak sebanding dengan hasil penjualan.

Berapa Harga TBS yang Dianggap Layak?

Harga TBS di tingkat petani di Kotawaringin Timur dalam beberapa pekan terakhir dilaporkan turun drastis, jauh dari estimasi biaya produksi. Para petani menyebut angka ideal yang bisa menutup modal dan memberi keuntungan kecil berkisar antara Rp 2.000 hingga Rp 2.500 per kilogram, tergantung kualitas buah.

Sayangnya, harga di lapangan saat ini disebut-sebut berada di bawah angka tersebut. Fluktuasi harga acuan CPO global serta kebijakan pabrik kelapa sawit setempat menjadi faktor utama yang dikeluhkan.

Dampak ke Petani: Pendapatan Harian Tergerus

Penurunan harga TBS berdampak langsung pada pendapatan harian petani. Seorang pekebun di Kecamatan Baamang misalnya, mengaku hasil panen per hektare kini hanya cukup untuk biaya transportasi dan upah buruh panen, tanpa sisa untuk tabungan atau kebutuhan keluarga.

“Kami berharap pemerintah turun tangan, jangan biarkan harga terus jatuh. Pupuk mahal, ongkos panen naik, tapi harga jual malah turun,” ujar seorang petani yang enggan disebutkan namanya, saat ditemui di Sampit, Senin lalu.

Apa Langkah yang Bisa Diambil Pemerintah?

Desakan petani mengemuka dalam beberapa pertemuan informal dengan perangkat desa dan dinas perkebunan setempat. Mereka meminta pemerintah daerah untuk mendorong pabrik kelapa sawit membeli TBS dengan harga yang merujuk pada formula yang lebih stabil, bukan hanya mengikuti harga pasar spot yang fluktuatif.

Selain itu, petani juga berharap ada program bantuan pupuk bersubsidi khusus untuk pekebun rakyat. Sebab, biaya produksi yang tinggi menjadi beban utama saat harga jual sedang tertekan.

Siapa yang Paling Terdampak?

Petani swadaya atau petani mandiri yang tidak terikat kontrak dengan pabrik menjadi pihak paling rentan. Mereka tidak memiliki jaminan harga dan kerap menjadi penentu harga terakhir saat menjual ke tengkulak atau pabrik kecil di sekitar lokasi kebun.

Di sisi lain, petani yang tergabung dalam koperasi atau kelompok tani relatif lebih terlindungi karena memiliki sistem negosiasi harga kolektif. Namun, jumlahnya masih terbatas di Kotawaringin Timur.

Berapa Luas Lahan Sawit di Kotawaringin Timur?

Kabupaten Kotawaringin Timur merupakan salah satu sentra perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Ribuan hektare lahan dikelola oleh petani rakyat, perusahaan swasta, dan BUMN. Fluktuasi harga TBS di daerah ini kerap menjadi indikator kondisi ekonomi perkebunan di provinsi tersebut.

Pemerintah provinsi sendiri sebelumnya telah berupaya memfasilitasi forum harga antara petani dan pabrik. Namun, hasilnya belum signifikan karena harga acuan nasional masih menjadi patokan utama yang sulit diintervensi daerah.

Kapan Harga TBS Bisa Kembali Stabil?

Belum ada kepastian kapan harga TBS di Kotawaringin Timur akan kembali normal. Petani berharap pemerintah pusat segera mengeluarkan kebijakan yang mengikat pabrik untuk membeli TBS petani dengan harga minimal tertentu.

“Kalau tidak ada intervensi, kami terus merugi. Jangan sampai petani sawit justru jatuh miskin karena harga komoditas yang mereka tanam sendiri tidak menentu,” pungkas petani tersebut.

Bagikan
Sumber: radarsampit.jawapos.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks