Pencarian

UPR dan Dispursip Kalteng Gelar Workshop Seni untuk 20 Anak Berkebutuhan Khusus di Palangka Raya

Kamis, 27 Agustus 2026 • 00:23:31 WIB
UPR dan Dispursip Kalteng Gelar Workshop Seni untuk 20 Anak Berkebutuhan Khusus di Palangka Raya
Peserta didik berkebutuhan khusus mengikuti lokakarya seni tari dan seni lukis di Palangka Raya.

Sebanyak 20 peserta didik dari sejumlah Sekolah Khusus (SKh) di Kota Palangka Raya mengikuti lokakarya seni tari dan seni lukis bertajuk "Jejak Merdeka". Kegiatan ini merupakan kolaborasi Program Studi Sendratasik FKIP Universitas Palangka Raya (UPR) dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispursip) Kalimantan Tengah serta Lampang Tandang Art Museum and Gallery.

PALANGKA RAYA — Peserta didik berkebutuhan khusus di Palangka Raya mendapat ruang berekspresi melalui seni. Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik (Sendratasik) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Palangka Raya (UPR) menggandeng Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispursip) Kalimantan Tengah serta Lampang Tandang Art Museum and Gallery untuk menggelar lokakarya seni bagi anak-anak dari Sekolah Khusus (SKh).

Kegiatan bertajuk "Jejak Merdeka: Gerak dan Warna, Berekspresi melalui Seni Tari dan Seni Lukis" ini dirancang untuk mengembangkan potensi anak-anak SKh. Mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga langsung mempraktikkan keterampilan yang diajarkan.

Seni sebagai Media Inklusif bagi Peserta Didik SKh

Koordinator Program Studi Pendidikan Sendratasik FKIP UPR, Yuliati Eka Asi, mengatakan kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama yang telah disepakati sebelumnya. Pihaknya ingin menghadirkan kampus di tengah masyarakat, tidak hanya untuk mahasiswa reguler.

"Sasarannya adalah sekolah khusus yang ada di Kota Palangka Raya," kata Yuliati dalam keterangannya, Rabu.

Menurut Yuliati, seni dapat menjadi media yang inklusif. Berbagai kalangan, termasuk peserta didik di sekolah khusus, bisa menikmati dan mempelajari seni untuk mengekspresikan diri.

Praktik Langsung: Dari Gerak Tari hingga Goresan Warna

Dalam lokakarya ini, para peserta mendapatkan pelatihan tari dari tenaga pengajar Program Studi Sendratasik FKIP UPR. Mereka juga mengikuti workshop seni lukis yang dipandu langsung oleh seniman dari Lampang Tandang Art Museum and Gallery.

"Anak-anak tidak hanya menerima materi, tetapi juga dalam bentuk workshop. Mereka mendapat pelatihan tari dari tenaga pengajar kami dan seni lukis dari narasumber," ujarnya.

Seniman Palangka Raya, Lampang, menjelaskan pendekatan yang digunakan dalam workshop seni lukis. Peserta dikenalkan pada warna dan cara mengekspresikannya menjadi sebuah karya tanpa harus memulai dari bentuk yang baku.

"Bagaimana memperkenalkan warna dan bagaimana warna itu juga bisa menjadi suatu karya. Tidak harus ada bentuk awalnya. Dari warna pun dia sudah berbicara tentang painting atau melukis," jelas Lampang.

Karya Lukisan Bakal Dipamerkan di FKIP Expo

Yuliati menambahkan, karya lukisan yang dihasilkan para peserta tidak akan berhenti di ruang lokakarya. Rencananya, karya-karya tersebut akan dipamerkan dalam kegiatan FKIP Expo yang dijadwalkan berlangsung pada 27-28 Agustus 2026.

Melalui kegiatan ini, UPR berharap dapat mewujudkan konsep kampus berdampak. Seni diharapkan bisa dirasakan oleh semua khalayak, sekaligus memperkuat komitmen membangun lingkungan seni yang inklusif di Palangka Raya.

Lampang menyambut positif kolaborasi ini karena membuka kesempatan bagi anak-anak SKh untuk mengenal dan terlibat langsung dalam dunia seni. Ia berharap kegiatan kolaboratif serupa dapat terus dikembangkan ke depan.

Follow monitorkalteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kalteng.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks