KALIMANTAN TENGAH — Makassar, Sulawesi Selatan: Antrean kendaraan roda dua dan roda empat di sejumlah SPBU Makassar belum juga surut. Di tengah situasi itu, BPH Migas memastikan pasokan BBM subsidi maupun nonsubsidi tetap tersedia setelah melakukan koordinasi intensif dengan Pertamina Patra Niaga dan kantor pusat Pertamina.
Koordinasi itu dilakukan untuk mengevaluasi penyaluran BBM di Kota Makassar, yang belakangan dilanda lonjakan permintaan. Wahyudi Anas, Kepala BPH Migas, menyebut Pertamina telah menyiapkan sejumlah langkah perbaikan untuk mengurai antrean yang terjadi.
Langkah Pertamina Urai Antrean
Perbaikan pertama menyentuh penguatan stok BBM di terminal Pertamina untuk beberapa hari ke depan. Rata-rata pemakaian terendah saat ini berada di kisaran 8 hingga 14 hari.
Pengiriman melalui jalur laut juga dijalankan secara kontinu dan terjadwal setiap dua sampai tiga hari. Pasokan dijaga dari sejumlah titik, termasuk Tuban dan Balikpapan.
"Nanti secara kontinu suplai akan dijaga dengan kapal, baik itu dari Tuban maupun dari Balikpapan, termasuk Biosolar. Kondisinya adalah normal, rata-rata stok yang tersimpan antara tujuh sampai dengan 12 hari," kata Wahyudi, dikutip dari Antara, Minggu (14/9).
Selain memperkuat pasokan, Pertamina menambah jumlah SPBU yang beroperasi 24 jam di Makassar. Sebelumnya hanya 11 SPBU, kini menjadi 25 SPBU, lengkap dengan penambahan nozzle dan operator.
Konsumsi Pertalite Melonjak
Lonjakan antrean ternyata sejalan dengan kenaikan konsumsi Pertalite. Volume normal yang biasanya sekitar 800 kiloliter per hari melesat menjadi 1.300 kiloliter per hari.
Kenaikan itu setara dengan lonjakan lebih dari 60 persen dibandingkan pemakaian biasa. Angka ini menjelaskan mengapa antrean di sejumlah SPBU tidak kunjung pendek meski pasokan dinyatakan aman.
Bagi warga Makassar, penambahan SPBU 24 jam menjadi kabar baik. Mereka kini punya lebih banyak pilihan waktu untuk mengisi bahan bakar tanpa harus terjebak antrean panjang di jam sibuk.
Pasokan Kapal Jadi Kunci
Ketergantungan pada pasokan kapal membuat jadwal pengiriman menjadi faktor penentu. Jika pengiriman dari Tuban dan Balikpapan berjalan sesuai jadwal, stok di terminal Pertamina diproyeksikan tetap di level aman.
BPH Migas menyatakan akan terus memantau distribusi harian. Evaluasi bersama Pertamina dilakukan untuk memastikan tidak ada kekosongan stok di SPBU, terutama di wilayah dengan permintaan tinggi seperti Makassar.
Persoalan antrean BBM di Sulawesi Selatan menjadi ujian bagi ketahanan distribusi energi di kawasan timur Indonesia. Dengan konsumsi Pertalite yang melonjak tajam, kecepatan respons Pertamina dalam menambah armada dan jam operasional SPBU akan menentukan seberapa cepat antrean di lapangan benar-benar terurai.