KALIMANTAN TENGAH — Bukan rahasia lagi kalau pabrikan Jepang sedang keteteran menghadapi agresivitas merek China di segmen kendaraan listrik. Honda jadi contoh teranyar. Lewat laporan Reuters, pabrikan asal Tokyo ini dikabarkan sudah menggelar pertemuan dengan pemasok utamanya pada musim semi 2026—sekitar Maret hingga Juni—dan menyampaikan instruksi tegas: harga komponen wajib turun signifikan.
Setiap pemasok disebut mendapat target pengurangan biaya komponen yang berbeda-beda, disesuaikan dengan lini produk masing-masing. Ini bukan sekadar permintaan normatif; dokumen internal menunjukkan target yang diberikan sangat ketat, sampai-sampai sumber Reuters meragukan apakah semua supplier sanggup memenuhinya.
Tekanan ke Supplier: Ini Bukan Negosiasi Harga Biasa
Honda tidak main-main. Instruksi penghematan difokuskan ke tiga kategori utama: komponen press dan forging, komponen kelistrikan, serta bagian-bagian yang berkaitan dengan software-defined vehicle. Pemangkasan biaya di area ini dianggap punya dampak paling besar terhadap struktur biaya produksi secara keseluruhan.
Yang lebih menarik, Honda kabarnya meminta pemasok langsung untuk meninjau ulang cara mereka mencari bahan baku. Supplier juga ditugaskan memperbanyak penggunaan komponen standar yang dipasok dari pemasok lapisan kedua dan ketiga. Artinya, ekosistem manufaktur Honda akan berubah drastis dalam beberapa tahun ke depan—dari rantai pasok yang tersegmentasi menjadi lebih ramping dan terstandarisasi.
Kenapa Honda Sampai Sejauh Ini?
Kondisi keuangan Honda memang sedang tidak sehat. Perusahaan mencatat kerugian tahunan pertama sejak resmi tercatat sebagai perusahaan publik. Reuters melaporkan kerugian bisnis EV Honda diproyeksikan menembus lebih dari USD 12 miliar ke depan—angka yang sangat besar bahkan untuk pabrikan sebesar Honda.
Sebagian kerugian itu memang dipicu tarif impor dan pembatalan model di Amerika Utara. Tapi porsi terbesar datang dari kompetisi harga dengan pabrikan China. Strategi vertikal-integrasi yang diterapkan merek China—menguasai rantai pasok dari hulu ke hilir—membuat biaya produksi mereka jauh lebih rendah. Honda tidak punya pilihan selain mengejar efisiensi serupa.
Langkah Tambahan: Standarisasi & Sumber Komponen dari China
Selain menekan pemasok soal harga, Honda dikabarkan akan memperluas standarisasi komponen lintas model. Ini strategi klasik yang sudah terbukti di industri otomotif: semakin banyak varian memakai part yang sama, semakin murah biaya produksi per unit.
Satu langkah lagi yang cukup mencolok: Honda berencana menambah porsi komponen yang dipasok dari China. Sumber Reuters menyebut hal ini langsung disampaikan dalam pertemuan dengan supplier. Artinya, pemasok Jepang dan negara lain yang selama ini setia memasok Honda harus siap bersaing dengan harga komponen asal China yang lebih murah.
Dampak Jangka Panjang: Harga Mobil Bermerek Jepang Bisa Berubah
Yang perlu dicermati pengguna di Indonesia: efisiensi ini kemungkinan besar akan memengaruhi harga jual mobil Honda di pasar kita dalam 3–5 tahun ke depan. Bukan tidak mungkin, Honda akan lebih agresif di segmen entry-level EV dengan mengandalkan komponen standar dan suplai dari China.
Efek lainnya, kualitas dan durabilitas komponen bisa mengalami pergeseran. Standarisasi dan pemangkasan biaya biasanya berjalan beriringan dengan pengurangan fitur atau pergantian material. Belum tentu lebih buruk—kadang standarisasi justru meningkatkan konsistensi kualitas—tapi ini poin yang perlu dipantau saat mobil generasi baru mulai meluncur.
Untuk sekarang, yang pasti adalah tekanan besar di tubuh Honda. Target hemat USD 9,4 miliar bukan angka kecil, dan eksekusinya akan menentukan apakah Honda bisa bertahan di era kendaraan listrik yang dimenangkan oleh efisiensi biaya, bukan sekadar reputasi merek.