Pencarian

BI: Kredit Tumbuh Lebih Cepat dari DPK, Likuiditas Sejumlah Bank Mengetat

Sabtu, 29 Agustus 2026 • 09:53:31 WIB
BI: Kredit Tumbuh Lebih Cepat dari DPK, Likuiditas Sejumlah Bank Mengetat
Direktur Kebijakan Makroprudensial BI Alexander Lubis menyampaikan paparan dalam Taklimat Media BI di Jakarta, Jumat (28/8).

KALIMANTAN TENGAH — Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Alexander Lubis mengatakan, secara industri pertumbuhan DPK sebenarnya masih kuat. Namun, akselerasi penyaluran kredit yang lebih tinggi membuat rasio likuiditas beberapa bank mengetat.

"Kreditnya lebih kencang lagi. Dari kata saya, gajinya naik, naik, kencang-kencang, tapi konsumsi saya lebih kencang lagi," ujarnya dalam Taklimat Media BI di Jakarta, Jumat (28/8).

Kepemilikan Surat Berharga Jadi Indikator Likuiditas

Alexander menjelaskan, kondisi likuiditas perbankan juga terlihat dari kepemilikan surat-surat berharga (SSB) yang berfungsi sebagai instrumen likuiditas. Sejumlah bank tercatat mengurangi portofolio SSB untuk membiayai ekspansi kredit, sementara kelompok bank lain justru mempertahankannya.

"SSB-nya meningkat, khususnya beberapa kelompok bank. Kalau secara industri, yes semuanya, tapi ketika kita masuk ke dalam detail kelompok bank, ternyata ada yang turun, ada yang naik," jelasnya.

Perbedaan perilaku ini menjadi pertimbangan BI untuk merombak kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) mulai 1 September 2026. Skema baru akan mempertimbangkan kondisi masing-masing bank agar likuiditas terdistribusi optimal untuk mendukung intermediasi.

Bukan Hanya Soal Pasokan, Permintaan Kredit Juga Masih Lesu

Alexander menegaskan, persoalan pertumbuhan kredit tidak semata-mata disebabkan keterbatasan likuiditas. BI masih melihat adanya persoalan dari sisi permintaan, di mana banyak korporasi belum memanfaatkan fasilitas kredit yang telah disediakan perbankan.

"Persoalan kredit ini tidak melulu soal supply, tapi yang mau kita pastikan adalah tidak ada permasalahan supply dengan permasalahan likuiditas," katanya.

Dunia usaha, menurutnya, masih menimbang kondisi ekonomi dan ketidakpastian sebelum memutuskan ekspansi. Alexander bahkan menirukan keluhan sejumlah bank yang kesulitan menemukan debitur baru di sektor-sektor produktif.

"Kalau beberapa saya ketemu bank-bank itu ya, saya tuh pengen, Pak, sektor-sektor lain. Tapi mana sektornya? Atau siapa deh, Pak? Udah deh, Bapak tunjuk aja," ujarnya menirukan masukan dari perbankan.

BI Andalkan Business Matching untuk Pacu Permintaan

Untuk mengatasi hambatan permintaan, BI tidak hanya mendorong sisi pasokan pembiayaan. Bank sentral akan memperkuat sisi permintaan melalui skema business matching, yang mempertemukan perbankan dengan calon debitur potensial.

BI akan berkoordinasi dengan kantor perwakilan di daerah untuk mengidentifikasi pelaku usaha, termasuk UMKM, yang membutuhkan pembiayaan. "Kita bikin business matching. Kita kumpulin nih siapa yang kita kerja sama dengan KPw-KPw, menurut kalian UMKM-UMKM yang ini," katanya.

Langkah ini diharapkan menghubungkan bank yang memiliki kapasitas pembiayaan dengan pelaku usaha yang membutuhkan kredit. "Supaya bisa lebih kencang lagi, swastanya ikut," ujarnya.

BI sendiri menargetkan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 berada di kisaran 8-12 persen. Alexander mengatakan realisasi sejauh ini masih berada dalam jalur target tersebut. "So far sih masih on track dari target kami pertumbuhan kreditnya," tandasnya.

Follow monitorkalteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks