KALIMANTAN TENGAH — Kami sempat menguji prototipe pra-produksi Eclipse Sportback di area Seattle, Amerika Serikat. Mobil ini akan mulai dijual di sana pada Oktober 2026 dengan banderol USD 35.000–40.000 — sekitar Rp 560–640 juta jika dikonversi dengan kurs Rp 16.000. Yang perlu digarisbawahi sejak awal: ini bukan mobil listrik yang dikembangkan Mitsubishi dari nol, melainkan Nissan Leaf 2026 dengan badge dan ubahan kosmetik.
Kabar baiknya, Leaf generasi terbaru memang sudah menjadi EV modern yang kompetitif. Masalahnya, Nissan sendiri kesulitan menjualnya — hanya 2.184 unit Leaf terkirim dari Oktober 2025 hingga Juni 2026. Pertanyaannya, apakah sentuhan Mitsubishi cukup untuk membuat mobil ini lebih menarik?
Desain: Badge Mitsubishi, DNA Nissan di Bawahnya
Dari depan, Eclipse Sportback terlihat cukup berbeda dari Leaf. Mitsubishi mendesain ulang lampu utama, bumper, dan grille dengan 20 "gigi" krom — 10 di masing-masing sisi logo tiga berlian. Hasilnya jauh lebih agresif dibanding wajah Leaf yang cenderung datar dan membosankan.
Dari samping, perbedaannya berupa pelek berbeda dan aksen krom di pilar C yang menyembunyikan handle pintu belakang. Di belakang, ada panel liftgate dengan tulisan "Mitsubishi" besar. Tapi jujur saja: selain detail-detail itu, ini tetap Leaf. Kap mesinnya sama persis, begitu pula profil keseluruhan bodi.
Performa: 214 HP FWD yang Cukup untuk Sehari-hari
Eclipse Sportback memakai baterai 75 kWh dan motor listrik 214 HP yang menggerakkan roda depan. Akselerasi 0-100 km/jam diperkirakan sekitar 6,9 detik — angka yang sama dengan Leaf karena komponennya identik. Torsi puncak 261 lb-ft cukup kuat sampai membuat roda depan kehilangan traksi saat pedal gas diinjak dalam di tikungan.
Di lalu lintas Seattle yang padat dengan banyak bundaran dan penyempitan jalur, mobil ini terasa lincah dan responsif. Bukan sports car, tapi lebih menyenangkan dibanding kebanyakan mobil bensin sekelasnya. Sayangnya, kami belum sempat menguji stabilitas di kecepatan tol yang konsisten.
Kenyamanan dan Kabin: Hening, Tapi Ada Detail Murah
Kabinnya sangat senyap — hampir tidak ada suara whine dari komponen kelistrikan. Ban di pelek 18 inci punya sidewall cukup tebal, sehingga redaman di jalan rusak terasa nyaman. Radius putar 35,4 kaki membuat mobil ini mudah bermanuver di area parkir sempit. Body roll memang terasa kalau diajak kencang, tapi masih dalam batas wajar dan mudah diprediksi.
Material kabin didominasi warna hitam dengan kombinasi panel jahitan diamond quilt dan plastik keras di beberapa bagian. Tidak terlihat murahan seperti mobil kompak 15 tahun lalu, tapi jelas bukan interior kelas premium. Satu detail yang mencolok murah: deretan empat tombol persegi hitam di tengah dasbor untuk Park, Reverse, Neutral, dan Drive.
Charging dan Efisiensi: Dua Port, Satu Adapter
Mitsubishi mempertahankan strategi dual charging port dari Leaf. Di fender kanan depan ada port NACS (standar Tesla) untuk DC fast charging dengan kecepatan maksimal 150 kW — mampu mengisi 10–80 persen dalam 35 menit dalam kondisi ideal. Adapter CCS-to-NACS sudah termasuk dalam paket penjualan.
Fitur pintar: jika Anda memasukkan DC fast charger sebagai tujuan di navigasi, baterai otomatis melakukan preconditioning untuk mempercepat charging. Untuk pengisian AC 240 volt di rumah, port J-1772 di fender kiri depan mendukung onboard charger 7,2 kW — mengisi 20–80 persen sekitar 6,5 jam. Kabel portabel dengan adaptor 240V dan 120V juga sudah standar.
Sistem heat pump membantu efisiensi dengan mengatur suhu kabin, baterai, dan motor secara bersamaan. Setelah mobil diparkir di bawah sinar matahari beberapa jam, AC bekerja cukup baik untuk mendinginkan kabin.
Regenerative Braking: Lima Level Plus Tombol Rahasia
Ada lima level pengereman regeneratif dari B1 hingga B5. Tombol e-Step di sisi lain berfungsi sebagai level tambahan — salah satu eksekutif Mitsubishi menyebutnya "anggap saja B8". Namun perlu dicatat: mode ini tidak memberikan pengalaman one-pedal driving penuh karena mobil tetap butuh injakan rem untuk berhenti total di bawah kecepatan sekitar 13 km/jam.
Mobil tetap memiliki creep torque seperti matic konvensional, meski fitur Auto Hold bisa menahannya setelah berhenti sempurna.
Kelebihan dan Kekurangan
- Kelebihan: Range 282 mil yang realistis untuk kelasnya
- Kelebihan: Kabin sangat senyap dan nyaman untuk penggunaan harian
- Kelebihan: Dual charging port (NACS + J-1772) memudahkan fleksibilitas pengisian
- Kekurangan: Pada dasarnya rebadge — nilai jual ulang dan identitas produk masih dipertanyakan
- Kekurangan: Hanya FWD, tidak ada varian AWD untuk pasar yang butuh traksi ekstra
- Kekurangan: Detail interior seperti tombol PRND terasa murah di harga Rp 600 jutaan
- Kekurangan: Nissan Leaf sendiri kurang laku — bisa memengaruhi harga bekas Eclipse Sportback nanti
Verdict: Untuk Siapa Mobil Ini?
Eclipse Sportback cocok untuk Anda yang menginginkan EV kompak dengan range panjang, kabin nyaman, dan tidak peduli bahwa ini pada dasarnya Nissan Leaf. Nama Eclipse membawa nostalgia, dan desain depannya memang lebih berkarakter.
Tapi kalau Anda peduli dengan nilai jual kembali, atau menginginkan EV dengan identitas teknis yang benar-benar berbeda dari kompetitor, ada baiknya menunggu harga resmi Indonesia dan membandingkan dengan opsi lain di kelas yang sama. Mitsubishi perlu membuktikan bahwa strategi rebadge ini bisa bersaing — karena angka penjualan Leaf di AS menunjukkan pasar belum sepenuhnya yakin.