SAMPIT — Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur melalui DPKP mulai merancang program restorasi perkebunan kelapa dalam secara terstruktur. Langkah ini diambil setelah bertahun-tahun sektor tersebut berjalan tanpa program berkelanjutan dan hanya mengandalkan bantuan sporadis.
Kepala DPKP Kotim Yephi Hartady Periyanto mengatakan, program restorasi bukan sekadar mempertahankan kebun yang ada, melainkan mengembalikan kondisi sektor kelapa dalam seperti masa jayanya dahulu. "Kalau dulu programnya itu tidak terstruktur. Sekarang ini kita merencanakan mulai dari hulu sampai hilir," ujarnya di Sampit, Minggu.
Tiga Kecamatan dengan Lahan Lebih dari 20.000 Hektare
Berdasarkan pemetaan DPKP, setidaknya ada tiga kecamatan yang memiliki perkebunan kelapa dalam cukup luas di wilayah selatan Kotim. Ketiganya adalah Pulau Hanaut, Teluk Sampit, dan Mentaya Hilir Selatan.
"Jadi cukup luas khususnya yang ada di wilayah Pulau Hanaut, kalau tidak salah itu di Desa Bapinang Hilir Laut dan Hantipan serta sekitar kawasan Sungai Kelampan itu mayoritas memang di sana banyak pertanaman kelapa dalam," jelas Yephi.
Kepastian Pasar dari PT Samuda Coco Buka Peluang Perluasan
Salah satu faktor pendorong program restorasi adalah mulai adanya kepastian hilirisasi hasil kelapa dalam. PT Samuda Coco, perusahaan pengolahan yang beroperasi di Kotim, telah menyerap bahan baku dari petani dan terus mengembangkan kapasitas produksinya.
Kapasitas produksi perusahaan yang sebelumnya sekitar 60 ton per hari ditargetkan meningkat menjadi 100 ton per hari. Kebutuhan bahan baku yang semakin besar membuka peluang pengembangan kebun rakyat.
"Harapan kita memang akan ada perluasan dan perluasan ini sebenarnya juga ditunjang karena adanya kepastian hilirisasi terkait hasil panen kelapa dalam itu sendiri," lanjut Yephi.
Pemerintah Siapkan Petugas Khusus dan Grand Design Jangka Panjang
DPKP Kotim mengakui hingga kini belum memiliki data pasti mengenai jumlah petani kelapa dalam karena belum ada program khusus yang fokus membina dan mendampingi mereka. Selama ini pengembangan komoditas tersebut dinilai berjalan sporadis.
Ke depan, DPKP akan menyiapkan petugas khusus untuk mengawal keberhasilan program restorasi. Pemerintah daerah juga akan menyusun grand design atau master plan pengembangan jangka panjang yang mencakup perluasan kebun, peningkatan kualitas sumber daya manusia petani, hingga pembentukan kelembagaan yang menjaga stabilitas harga.
Selain itu, Pemkab Kotim masih membuka peluang masuknya investor lain guna memperkuat industri hilir kelapa dalam. Keberadaan industri pengolahan dinilai menjadi faktor penting untuk menjamin kepastian pasar sekaligus meningkatkan harga jual hasil petani.