Pencarian

Ritual Tiwah di Pulang Pisau: DPW Tameng Adat Borneo Kalteng Hadiri Pendirian Enam Sapundu, Simbol Toleransi Huma Betang

Sabtu, 30 Mei 2026 • 16:15:32 WIB
Ritual Tiwah di Pulang Pisau: DPW Tameng Adat Borneo Kalteng Hadiri Pendirian Enam Sapundu, Simbol Toleransi Huma Betang
DPW Tameng Adat Borneo Kalteng menghadiri prosesi pendirian enam Sapundu dalam Ritual Tiwah di Pulang Pisau.

PULANG PISAU — Suasana khidmat menyelimuti prosesi Ritual Tiwah yang digelar di Kabupaten Pulang Pisau pada Jumat sore (29/5/2026). Rombongan DPW Tameng Adat Borneo Kalimantan Tengah yang dipimpin Sairullah, bersama Pembina Sanggar Kambang Barenteng Al Firdaus, Wahidah, tiba tepat saat pelaksanaan Mapendeng Sapundu—pendirian enam tiang sakral sebagai bagian dari rangkaian upacara adat tersebut.

Kedatangan mereka disambut langsung oleh para Basir, pemimpin ritual keagamaan setempat. Momen ini dinilai sebagai implementasi nyata dari Falsafah Huma Betang, di mana perbedaan keyakinan justru menjadi kekuatan yang memperkaya kebersamaan masyarakat Kalimantan Tengah.

Apa Makna Ritual Tiwah bagi Umat Hindu Kaharingan?

Ritual Tiwah merupakan upacara suci kematian tingkat akhir bagi umat Hindu Kaharingan. Tujuan utamanya adalah mengantarkan arwah atau Liau leluhur menuju Lewu Tatau, alam kedamaian atau surga. Dalam prosesi ini, enam buah tiang kayu berukir yang disebut Sapundu didirikan sebagai tempat sakral untuk mengikat hewan kurban.

Pemimpin ritual Hindu Kaharingan, Basir Obing, memberikan apresiasi tinggi atas kehadiran Sairullah dan rombongan. Ia menegaskan bahwa Tiwah adalah kewajiban sakral yang sarat dengan nilai spiritualitas tinggi dan harus dijaga kelestariannya di tengah arus modernisasi.

Mengapa Kehadiran Tameng Adat Borneo Dianggap Penting?

Sairullah menyampaikan bahwa kehadiran pihaknya merupakan bentuk penghormatan tertinggi terhadap sakralitas Ritual Tiwah. "Adat dan tradisi adalah identitas serta akar pemersatu kita di Kalimantan Tengah. Melalui momentum ini, mari kita terus merawat toleransi dan memperkokoh pondasi Falsafah Huma Betang," tutur Sairullah.

Melalui kunjungan ini, DPW Tameng Adat Borneo Kalimantan Tengah kembali menegaskan perannya tidak hanya sebagai pelindung adat secara fisik, tetapi juga sebagai pengayom spiritual yang senantiasa menjaga kedamaian, harmoni, serta toleransi antarumat beragama di provinsi ini.

Apa Hubungan Ritual Tiwah dengan Falsafah Huma Betang?

Falsafah Huma Betang mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah pemisah, melainkan kekayaan yang mempererat persatuan. Kehadiran tokoh adat dari luar komunitas Hindu Kaharingan dalam Ritual Tiwah menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai kebersamaan dan toleransi masih terawat kuat di Kalimantan Tengah.

Rombongan DPW Tameng Adat Borneo dan Sanggar Kambang Barenteng Al Firdaus disambut dalam suasana kekeluargaan yang kental. Momen ini menjadi simbol kebersamaan yang melampaui batas-batas perbedaan keyakinan dan adat istiadat.

Siapa Saja yang Terlibat dalam Prosesi Ini?

Selain Sairullah dan Wahidah, rombongan besar ini disambut oleh para Basir setempat yang memimpin jalannya ritual. Basir Obing, sebagai pemimpin ritual, memberikan penjelasan mendalam mengenai esensi rangkaian acara yang sedang berlangsung. Kehadiran lintas tokoh ini menunjukkan bahwa Ritual Tiwah bukan sekadar upacara adat, melainkan ajang mempererat silaturahmi antar elemen masyarakat.

Pewarta: Rizal

Bagikan
Sumber: liputansbm.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks