KOTAWARINGIN TIMUR — Ketimpangan akses transportasi di Mentaya Seberang bukan sekadar soal infrastruktur jalan, melainkan telah berdampak langsung pada jam belajar anak-anak. Para siswa harus berangkat pagi buta dan baru pulang menjelang magrib, bahkan lebih lambat jika ada kegiatan ekstrakurikuler. Orang tua di sejumlah desa mengaku cemas karena anak-anak mereka kerap berjalan kaki di pinggir jalan yang minim penerangan.
Dampak paling nyata adalah berkurangnya waktu istirahat dan belajar di rumah. Seorang warga yang anaknya bersekolah di SMP Negeri 1 Mentaya Seberang mengatakan, anaknya harus berangkat pukul 05.30 WIB dan baru sampai rumah sekitar pukul 17.30 WIB. Jika ada kegiatan pramuka atau les tambahan, kepulangan bisa molor hingga pukul 19.00 WIB. Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu konsentrasi belajar dan kesehatan anak.
Jarak tempuh antar permukiman yang terpencar dan kondisi jalan yang belum memadai menjadi penyebab utama. Angkutan desa hanya beroperasi terbatas pada jam-jam tertentu, sementara ojek online belum menjangkau wilayah ini. Pemerintah daerah setempat mengakui bahwa alokasi angkutan sekolah masih terpusat di perkotaan, sementara desa-desa di Mentaya Seberang belum tersentuh layanan serupa. Belum ada program khusus dari Pemkab Kotawaringin Timur untuk menyediakan bus sekolah di jalur ini.
Pelajar tingkat SMP dan SMA menjadi kelompok yang paling merasakan dampak. Mereka umumnya bersekolah di pusat kecamatan yang jaraknya bisa mencapai 10-15 kilometer dari rumah. Anak-anak dari keluarga kurang mampu menjadi yang paling rentan karena tidak memiliki kendaraan pribadi dan harus bergantung pada jadwal angkutan umum yang tidak menentu. Beberapa di antaranya bahkan terpaksa numpang antar sesama warga dengan biaya sukarela.
Dinas Pendidikan setempat menyebut akan mengkaji ulang kebutuhan transportasi sekolah di wilayah pinggiran. Namun, hingga saat ini belum ada keputusan konkret terkait pengadaan armada khusus. Warga berharap Pemkab Kotawaringin Timur segera merealisasikan program angkutan pelajar gratis atau subsidi transportasi agar anak-anak tidak lagi pulang larut malam. Mereka menilai masalah ini harus diselesaikan sebelum tahun ajaran baru dimulai.
Sejumlah orang tua mulai membentuk kelompok antar-jemput sukarela secara bergiliran. Mereka juga mengusulkan agar sekolah menyesuaikan jadwal kegiatan ekstrakurikuler agar tidak molor hingga sore hari. Namun, solusi jangka panjang tetap membutuhkan intervensi pemerintah, baik melalui penyediaan angkutan sekolah maupun perbaikan infrastruktur jalan di Mentaya Seberang.
Apakah ada bus sekolah di Mentaya Seberang?
Belum ada. Saat ini tidak ada layanan bus sekolah yang menjangkau desa-desa di Mentaya Seberang. Warga hanya mengandalkan angkutan desa dengan jadwal terbatas.
Kapan Pemkab Kotawaringin Timur akan menyediakan transportasi sekolah?
Belum ada kepastian jadwal. Dinas Pendidikan setempat masih dalam tahap kajian dan belum mengumumkan rencana realisasi program.
Berapa jarak tempuh sekolah ke rumah bagi anak-anak di Mentaya Seberang?
Rata-rata mencapai 10 hingga 15 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit hingga 1 jam tergantung kondisi jalan dan ketersediaan kendaraan.