KALIMANTAN TENGAH — Kenaikan harga tersebut tercatat dalam laman resmi logammulia.com. Sebelumnya, harga perak Antam masih berada di level Rp 44.700 per gram. Lonjakan ini berbarengan dengan gejolak pasar keuangan global yang dipicu kebijakan baru Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS).
Pemerintah AS mengumumkan rencana melipatgandakan pembelian kembali utang jangka panjang untuk menekan biaya pinjaman. Langkah ini memicu penurunan tajam pada imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan melemahkan nilai tukar dolar AS. Kondisi tersebut mendorong investor memarkir dananya di logam mulia.
Perak Antam Dibanderol Mulai Rp 11 Juta
Di pasar domestik, Antam menawarkan beberapa varian produk perak batangan dan butiran. Untuk perak batangan ukuran 250 gram, harganya dipatok di level Rp 11.850.000, namun stoknya belum tersedia. Sementara itu, perak batangan 500 gram dibanderol Rp 22.775.000 dan saat ini statusnya tersedia.
Antam juga menjual produk perak butiran murni dengan kadar 99,95 persen. Produk ini biasanya menjadi pilihan bagi industri perhiasan maupun investor yang ingin mencetak perak menjadi bentuk lain.
Harga Perak Dunia Tembus US$ 69 per Ons
Di pasar global, harga perak tercatat menguat 1,41 persen menjadi US$ 69,03 per ons pada Jumat pekan ini. Harga komoditas ini diperdagangkan di atas level US$ 68 per ons dan berada di jalur untuk mencatat kenaikan tiga minggu berturut-turut.
Penguatan harga perak terjadi meskipun imbal hasil obligasi pemerintah AS sempat berbalik naik. Pelaku pasar menilai langkah pemerintah AS mengendalikan biaya pinjaman jangka panjang hanya memberikan solusi sementara. Kekhawatiran ini diperparah kenaikan harga minyak yang terus berlanjut, mempertegas risiko inflasi berkepanjangan.
Situasi geopolitik turut mempengaruhi. Harga minyak kembali naik seiring rencana AS menerapkan sanksi ekonomi baru terhadap Iran, di tengah kebuntuan hubungan kedua negara terkait Selat Hormuz.
Harga Emas Dunia Justru Melemah Tipis
Berbeda dengan perak, harga emas dunia justru melemah tipis pada perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026 (Jumat pagi WIB). Harga emas spot turun 0,1 persen menjadi US$ 4.516,19 per ons setelah sempat merosot ke level terendah US$ 4.450,08.
Analis American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menyebut pelemahan ini sebagai aksi ambil untung yang wajar setelah kenaikan tajam pada sesi sebelumnya. Risalah rapat Federal Reserve (the Fed) AS yang bernada hawkish—cenderung mendukung pengetatan kebijakan—juga memicu kembali kekhawatiran inflasi.
Meski demikian, emas berhasil memangkas sebagian kerugiannya setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan pemerintah akan meningkatkan pembelian kembali obligasi negara dengan nilai yang bisa melebihi US$ 4 miliar atau setara Rp 71,05 triliun per penerbitan. Analis independen Tai Wong menilai emas terbantu oleh prospek suku bunga riil jangka panjang yang lebih rendah.
Pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 67,4 persen The Fed akan mempertahankan suku bunga pada September, berdasarkan data CME FedWatch Tool. Sementara itu, analis Morgan Stanley memperkirakan harga emas berpeluang melampaui US$ 5.000 per ons pada 2027, meskipun disertai potensi volatilitas yang tinggi.