PALANGKA RAYA — Sebanyak 84 dari 126 kejadian karhutla selama masa siaga darurat terkonsentrasi di Kecamatan Jekan Raya. Angka itu menjadikan wilayah tersebut sebagai penyumbang terbanyak kasus kebakaran lahan di ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Satria Budi menyebutkan, Kecamatan Sebangau mencatat 22 kejadian, disusul Pahandut 16 kali, dan Bukit Batu empat kali. Satu-satunya kecamatan yang nihil kebakaran adalah Rakumpit.
Kenapa Jekan Raya Paling Rawan?
Hendrikus menjelaskan, penanganan di lapangan dilakukan cepat agar api tidak meluas, terutama di lahan gambut yang mudah terbakar saat kemarau. Setiap laporan kebakaran langsung ditindaklanjuti dengan pengerahan personel dan peralatan pemadaman ke lokasi.
"Kami terus mengedepankan upaya pencegahan karena jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah kebakaran terjadi. Edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar," ujar Hendrikus di Palangka Raya, Kamis.
Sinergi Lintas Instansi Jadi Kunci
Dalam pemadaman, BPBD berkolaborasi dengan Manggala Agni, TNI, Polri, Dinas Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), pemadam kebakaran, relawan, dan masyarakat peduli api (MPA). Perangkat kecamatan dan kelurahan di wilayah terdampak juga dilibatkan.
Menurut Hendrikus, sinergi lintas instansi mempercepat pengendalian karhutla—mulai dari pemadaman darat, patroli terpadu, pemantauan wilayah rawan, hingga penyediaan sumber air di titik-titik yang berpotensi terbakar.
Langkah Antisipasi dan Imbauan ke Warga
BPBD juga memperkuat antisipasi melalui patroli rutin di kawasan rawan, sosialisasi ke masyarakat, penyebaran informasi peringatan dini, serta pemetaan daerah dengan tingkat kerawanan tinggi. Pemerintah daerah terus meningkatkan koordinasi dengan pemangku kepentingan untuk memastikan kesiapsiagaan personel, peralatan, dan logistik selama musim kemarau.
Hendrikus mengimbau warga agar tidak membakar lahan untuk tujuan apa pun, tidak membuang puntung rokok sembarangan di kawasan kering, dan segera melaporkan titik api atau kepulan asap ke BPBD, aparat kelurahan, atau layanan darurat terdekat.
"Keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada pemerintah dan petugas di lapangan, tetapi juga membutuhkan kesadaran seluruh masyarakat," kata dia.