KALIMANTAN TENGAH — Film horor Other Mommy menuai kritik pedas dengan skor 16 persen dari 64 ulasan kritikus di Rotten Tomatoes, meski tayang sejak 7 Oktober 2026. Karya adaptasi novel Josh Malerman itu justru sukses secara komersial dengan pendapatan global US$45 juta. Kritikus menilai film garapan Rob Savage ini lemah dalam membangun alur cerita dan rasa takut.
Kritik datang dari sejumlah media terkemuka yang menilai Other Mommy gagal memaksimalkan potensi ceritanya. Film yang dibintangi Jessica Chastain ini disebut lebih mengandalkan visual dan jump scare ketimbang membangun ketegangan yang membekas.
Katie Rife dari Inverse menilai masalah utama film ini terletak pada prioritas yang salah. Menurutnya, penceritaan justru dikesampingkan demi visual yang keren dan pergerakan kamera yang sangat liar.
"Bukan berarti buruk jika film membuat penontonnya menginginkan lebih. Namun, dalam film ini, masalahnya tampak terletak pada prioritas yang keliru," tulis Rife.
Simon dari RogerEbert.com menyoroti minimnya alur cerita. Ia menilai Other Mommy lebih berfungsi sebagai wahana untuk menghadirkan jump scare yang mengandalkan efek dan rasa takut yang memacu adrenalin.
Benjamin Lee dari The Guardian melihat ada versi Other Mommy yang lebih dingin dan tenang yang sebenarnya bisa merayap masuk ke bawah kulit penonton. Namun, Rob Savage dinilai terlalu sibuk mencoba membuat penonton terkena serangan jantung.
"Savage terlalu sibuk mencoba membuat penonton terkena serangan jantung hingga tak peduli apakah filmnya mampu menghadirkan mimpi buruk," tulis Lee.
Kritik serupa datang dari Keith Phipps di The Reveal. Ia menilai ketegangan yang dibangun sosok Other Mommy justru terperosok lantaran film mengandalkan unsur teknis. Sosok tersebut dinilai kehilangan daya horornya seiring cerita berjalan.
"Apa yang awalnya merupakan film thriller yang menegangkan dan menyeramkan perlahan berubah menjadi pertarungan yang semakin absurd melawan sosok mengerikan ciptaan efek khusus, yang justru semakin tidak menakutkan seiring berjalannya film," tulis Phipps.
Jacob Oller dari AV Club menyoroti minimnya ancaman nyata dalam film. Ia menyebut rasanya lebih seperti rumah hantu yang dikelola seorang aktor papan atas, alih-alih sekelompok mahasiswa teater yang mencari uang untuk membeli bir.
Jake Wilson dari Sydney Morning Herald menyoroti pengembangan unsur emosional. Film tentang anak yang mulai berinteraksi dengan entitas supranatural menyerupai ibunya itu dinilai punya potensi mengeksplorasi sisi emosional, tetapi tidak dikembangkan dengan baik.
"Gagasan bahwa kita tidak selalu bisa memilih siapa yang kita cintai (atau tidak cintai) mungkin menjadi inti dramatis film ini, seandainya film tersebut memang memiliki inti yang jelas," ulasan Wilson.
Nick Schager dari The Daily Beast tetap melihat daya tarik pada ritme film yang cepat dan atmosfer horor surealis yang dihadirkan. Menurutnya, alur yang bergerak tanpa henti seperti roller coaster menjadikan film ini cocok ditonton bersama teman pada Jumat malam di bioskop.
"Meski film garapan Rob Savage ini tidak terlalu memedulikan logika, alurnya yang bergerak tanpa henti seperti wahana roller coaster dan atmosfer rumah hantu yang surealis menjadikannya film thriller yang cocok ditonton bersama teman-teman pada Jumat malam di bioskop," tulis Schager.
Di tengah gempuran kritik, Other Mommy justru berhasil menguasai Amerika Utara pada pekan perdananya dengan pendapatan US$27,5 juta. Film yang diproduksi dengan biaya US$18 juta ini juga meraup US$17,69 juta dari pasar internasional.
Total pendapatan global film ini kini menyentuh US$45 juta, menempatkannya dalam posisi keuangan yang aman. Film berlabel D17+ atau untuk penonton di atas 17 tahun ini masih tayang di bioskop.
Keterlibatan James Wan sebagai produser, yang dikenal lewat waralaba Saw, Insidious, dan The Conjuring, belum cukup membuat Other Mommy mendapat sambutan positif dari kritikus. Adaptasi novel Incidents Around the House karya Josh Malerman ini menjadi contoh bagaimana respons kritikus dan performa box office bisa berjalan berlawanan.