KALIMANTAN TENGAH — Swiss kehilangan 19,4 persen volume es gletsernya sepanjang 2021 hingga 2026, dengan penyusutan 5,5 persen hanya pada delapan bulan pertama tahun ini. Laporan pemantauan tahunan Swiss Glacier Monitoring Network dan Swiss Commission for Cryosphere Observation mencatat ketebalan es rata-rata turun 2,5 sampai 4 meter, mengubah lanskap Alpen menjadi hamparan batu gundul. Penyusutan ini disebut hampir menyamai rekor terburuk yang tercatat pada 2022.
Sejumlah gletser kecil di Pegunungan Alpen dilaporkan telah hilang sepenuhnya, sementara lokasi yang beberapa tahun lalu masih tertutup lapisan es setebal ratusan meter kini menjadi lahan tandus berisi bongkahan es tua yang terus mencair di atas bebatuan panas. Peneliti belum merampungkan penghitungan resmi penyusutan untuk tahun ini, tetapi data sementara sudah menunjukkan skala kerusakan yang signifikan.
Penyebab: Musim Panas Terik dan Salju Musim Dingin yang Menipis
Gelombang panas ekstrem sepanjang musim panas 2026 menjadi pemicu utama percepatan penyusutan. Salju yang seharusnya menumpuk pada musim dingin juga semakin sedikit, sehingga lapisan es tidak mendapat pasokan pengganti sebelum musim mencair tiba.
Penelitian yang diterbitkan MeteoSwiss menemukan bahwa periode April hingga September tahun ini tercatat sebagai setengah tahun terpanas dan terkering sejak pencatatan dimulai pada 1864. Wilayah Alpen mengalami kenaikan suhu dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global, akibat efek pemerangkapan panas dari polusi bahan bakar fosil dan kerusakan alam.
Gletser Runtuh dari Dalam, Bukan Cuma Meleleh di Permukaan
Matthias Huss, ahli gletser di ETH Zürich yang menjadi penulis utama penelitian, menyoroti pola keruntuhan yang jarang dibahas. Aliran internal di bawah es membentuk gua-gua yang membuat lapisan atas gletser ambruk, bukan sekadar menyusut akibat paparan sinar matahari.
"Ada lubang-lubang besar di tengah es yang atapnya runtuh, seperti keju. Ini adalah proses yang merusak gletser dan membuatnya menyusut lebih cepat," kata Huss.
Ia menambahkan bahwa banyak orang belum menyadari kecepatan perubahan ini. Menurut pengamatannya, lokasi yang kini gundul dulunya berada di bawah lapisan es yang tebal dan luas.
"Saya mengunjungi salah satunya minggu lalu dan sangat berkesan untuk berdiri di lahan seperti Bulan ini, yang pernah berada di bawah lapisan es yang tebal dan luas, hanya beberapa tahun lalu," ujarnya.
Emisi Karbon Global Jadi Pendorong Utama
Dalam periode yang sama, umat manusia telah melepaskan 1,8 triliun ton emisi karbon dioksida ke atmosfer. Akumulasi gas rumah kaca itu membuat planet ini mengalami pemanasan sekitar 1,4 derajat Celsius dibandingkan kondisi pra-industri.
Angka tersebut menjelaskan mengapa percepatan penyusutan gletser terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat. Tekanan panas yang menumpuk di atmosfer mempercepat proses mencair, terutama di wilayah lintang tinggi seperti Alpen yang lebih sensitif terhadap perubahan suhu.
Implikasi bagi Kawasan Pegunungan Lain
Temuan ini memperkuat pola yang sudah terlihat di berbagai rangkaian pegunungan dunia, termasuk Himalaya dan Andes. Gletser berfungsi sebagai penyimpan air musiman yang menopang pasokan sungai, irigasi, dan pembangkit listrik tenaga air di kawasan hilir.
Ketika volume es menyusut lebih cepat dari kemampuan alam untuk mengisinya kembali, risiko kekeringan pada musim kemarau meningkat. Pemerintah dan operator infrastruktur di kawasan pegunungan perlu menghitung ulang proyeksi ketersediaan air dalam beberapa dekade ke depan.
Para peneliti akan melanjutkan pemantauan tahunan untuk memastikan apakah laju penyusutan 2026 benar-benar menyamai rekor 2022. Jika tren ini berlanjut tanpa penurunan emisi global yang signifikan, sejumlah gletser kecil di Alpen diprediksi tidak akan bertahan hingga dekade berikutnya.