KALIMANTAN TENGAH — Insiden di GIIAS 2026 itu sempat jadi perbincangan hangat. Purbaya, yang hadir sebagai pembicara di Gaikindo International Automotive Conference (GIAC), mampir ke booth Honda dan langsung tertarik pada Super One. Ia bertanya soal harga kepada Yusak Billy, Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor. Billy sempat menahan diri karena harga resmi belum diumumkan, tapi akhirnya bocor juga: "Rp 400 jutaan Pak." Jawaban Purbaya spontan dan terus terang: "Mahal juga lo jualnya. Sulit bersaing dong." Ia sempat masuk ke kabin, duduk sebentar, lalu pergi.
Perbandingan Harga yang Jomplang: Rp 400 Juta vs Rp 1,14 Miliar
Keputusan Purbaya membeli Xpeng X9—MPV listrik premium asal China dengan banderol mulai Rp 1,14 miliar OTR Jakarta—memang terlihat kontradiktif di permukaan. Hampir tiga kali lipat dari estimasi harga Super One yang ia sebut mahal.
Namun, logika konsumen tidak sesederhana itu. Membandingkan harga tanpa melihat kelas dan utilitas adalah kekeliruan. Honda Super One dan Xpeng X9 berada di dua planet yang berbeda dalam tata surya otomotif: yang satu city car kompak untuk mobilitas perkotaan, yang lain MPV mewah berteknologi tinggi untuk kebutuhan keluarga atau eksekutif.
Honda Super One: Target Pasar yang Berbeda
Super One adalah jawaban Honda atas kebutuhan mobil listrik kecil yang lincah di perkotaan. Dengan dimensi kompak, mobil ini dirancang untuk efisiensi dan kemudahan parkir—bukan untuk kemewahan atau ruang kabin luas. Segmen ini memang yang paling kompetitif di pasar EV global, dengan harga mulai Rp 200-400 jutaan.
Di kelas ini, Super One akan berhadapan dengan pemain-pemain China yang sudah mapan seperti Wuling Air EV dan BYD Seagull. Persaingan di segmen city car EV memang brutal, dan persepsi "mahal" dari Purbaya mungkin merujuk pada positioning harga Honda yang cenderung premium dibanding kompetitor lokal.
Xpeng X9: Investasi pada Teknologi dan Ruang
Xpeng X9 adalah cerita yang berbeda total. MPV listrik ini adalah flagship yang membawa teknologi mutakhir: platform 800V untuk pengisian ultra-cepat, sistem ADAS canggih, dan kabin mewah berkapasitas 7 penumpang. Harganya memang selangit, tapi untuk pembeli dengan kebutuhan spesifik—keluarga besar atau pejabat yang butuh ruang representatif—nilainya bisa terasa sepadan.
Keputusan Purbaya justru menunjukkan ia memahami kebutuhan individualnya. Saat berkomentar soal Super One, ia berbicara sebagai pengamat industri yang menilai daya saing produk di pasar. Saat membeli Xpeng X9, ia bertindak sebagai konsumen yang mencari solusi mobilitas spesifik—dan untuk itu, ia bersedia membayar lebih.
Yang Perlu Diperhatikan dari Pernyataan Purbaya
Komentar "sulit bersaing" dari seorang Menteri Keuangan bukan sekadar opini pribadi. Ini bisa menjadi sinyal soal arah kebijakan insentif kendaraan listrik. Jika pemerintah menilai harga Super One terlalu tinggi untuk bersaing, ada kemungkinan kebijakan masa depan akan lebih agresif mendorong pemain yang bisa menawarkan harga lebih rendah.
Di sisi lain, pembelian Xpeng X9 oleh pejabat publik juga menyoroti tren lain: merek China premium mulai diterima di kalangan atas Indonesia. Ini adalah kemenangan besar bagi persepsi kualitas mobil China, yang dulu identik dengan harga miring dan kualitas pas-pasan.
Verdict: Bukan Soal Mahal atau Murah, Tapi Kebutuhan
Kontroversi ini sebenarnya mengajarkan kita cara membaca pasar otomotif dengan lebih cerdas. Label "mahal" atau "murah" tidak bisa dilepas dari konteks segmen, fitur, dan kebutuhan. Honda Super One di Rp 400 jutaan bisa jadi pilihan tepat untuk kamu yang butuh mobil kedua untuk harian di kota. Xpeng X9 di Rp 1,14 miliar masuk akal untuk kamu yang butuh satu mobil untuk semua: antar jemput anak, perjalanan dinas, dan weekend trip sekeluarga.
Yang jelas, kedua mobil ini punya pasar masing-masing. Komentar Purbaya soal Super One adalah kritik yang valid untuk daya saing Honda di segmen entry-level. Tapi pembelian Xpeng X9 bukanlah pemborosan—itu adalah keputusan konsumen yang tahu apa yang ia butuhkan dan berani membayar untuk itu.