Ketua ABI, Ronald Sulistyanto, menilai usulan moratorium refinery alumina terlalu berlebihan. Industri smelter bauksit saat ini baru memasuki fase awal pertumbuhan hilirisasi. Dari puluhan rencana pembangunan, baru sekitar 3 hingga 4 pabrik pemurnian yang benar-benar beroperasi.
Cadangan Melimpah, Akses Tambang Jadi Kendala
Ronald menyebut cadangan bauksit nasional mencapai 1,6 miliar metrik ton. Dengan angka itu, pasokan untuk refinery diperkirakan masih cukup untuk 25 hingga 30 tahun ke depan. Pengolahan bauksit menjadi alumina dinilai sebagai jalur hilirisasi yang tepat.
Persoalannya, lokasi cadangan tersebut mayoritas berada di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Riau. Di wilayah-wilayah itu, lahan tambang bauksit nyaris seluruhnya berhimpitan dengan kawasan perkebunan yang sudah memiliki HGU. Kondisi ini menjadi kendala utama bagi perusahaan tambang untuk mengakses dan menambang bauksit secara legal.
“Kami perlu penataan kerjasama bisnis ke bisnis (B2B) dan juga aturan pendukung agar pasokan bauksit ke refinery bisa berjalan lancar,” ujar Ronald dalam dialog dengan CNBC Indonesia, Senin (11/5/2026).
Dampak bagi Industri Hilir dan Investasi
Jika masalah tumpang tindih lahan tidak segera diatasi, pasokan bauksit untuk pabrik alumina yang sudah dan akan dibangun bisa terganggu. Padahal, hilirisasi bauksit menjadi alumina dan aluminium merupakan proyek strategis nasional untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tambang di dalam negeri.
Ketidakpastian pasokan bauksit akibat konflik lahan dengan HGU perkebunan juga berpotensi mengganggu rencana ekspansi PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Inalum merupakan BUMN induk holding industri pertambangan dan pemain kunci dalam rantai pasok aluminium nasional. Ketersediaan bauksit yang stabil menjadi syarat mutlak bagi Inalum untuk merealisasikan proyek refinery dan smelter baru.
Alih-alih memberlakukan moratorium, ABI mendorong pemerintah segera menyelesaikan persoalan tata ruang dan regulasi pertambangan bauksit di area perkebunan. Tanpa solusi konkret, target Indonesia menjadi pemain utama industri aluminium global hanya akan tinggal rencana.