PALANGKA RAYA — Perjuangan keras di tengah keterbatasan dana dan perjalanan darat selama 10 jam dari Pangkalan Bun ke Palangka Raya akhirnya terbayar lunas. SMAN 1 Pangkalan Bun sukses menyabet juara pertama LKBB-PB tingkat Provinsi Kalteng yang digelar di Halaman Kantor Gubernur, Sabtu (6/6/2026).
Dewan juri yang berasal dari unsur TNI, Kepolisian, dan Purna Paskibraka Indonesia menetapkan total nilai 8175 untuk regu SMAN 1 Pangkalan Bun. Pesaing terdekat mereka, SMAN 3 Pangkalan Bun, harus puas di posisi kedua dengan nilai 8020, disusul SMAN 2 Sampit di peringkat ketiga dengan nilai 7868.
Kemenangan ini diraih bukan tanpa hambatan. Komandan regu, Akbar Firmansyah, mengaku sempat pingsan akibat kekurangan oksigen sesaat setelah menyelesaikan penampilan. “Memang tadi sempat pingsan setelah tampil. Tapi, rezeki (kemenangan) sudah ada yang mengatur. Kami latihan tadi malam, hujan-hujanan, kecapekan. Tapi alhamdulillah perjuangan itu dibalas dengan yang setara menjadi juara pertama,” ujarnya.
Guru pendamping regu, Anike Aviyani Putri, menambahkan bahwa timnya berlatih hingga larut malam di tempat penginapan. “Perjuangan anak-anak sangat luar biasa. Saya melihat totalitas anak-anak dalam berlatih. Tadi malam, kami baru selesai pukul 22.00, hujan-hujanan, di tempat penginapan pun kami melakukan latihan,” jelasnya.
Deputi Bidang Administrasi Sekretariat Jenderal MPR RI, Heri Herawan, yang hadir menyerahkan piala juara pertama kepada Akbar, mengingatkan agar perwakilan Kalteng tidak cepat puas. “Persaingan nanti di Jakarta sangat ketat. Perwakilan Provinsi Kalteng harus berlatih lagi. Jangan terlalu percaya diri merasa terbaik karena di Jakarta persaingan semakin ketat. Dari provinsi-provinsi lain juga menampilkan yang terbaik,” kata Heri dalam keterangannya, Minggu (7/6/2026).
Heri juga mengaitkan lomba ini dengan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI. Menurutnya, baris berbaris mengandung makna gotong royong, ketika yang lebih kuat menyesuaikan langkah dengan yang lebih lemah, serta simbol bendera Merah Putih yang berarti keberanian dan kesucian niat.
Anike mengakui bahwa regu SMAN 1 Pangkalan Bun menghadapi keterbatasan biaya dibandingkan sekolah lain. “Dibandingkan dengan sekolah lain, kami mengalami keterbatasan dana. Di tengah keterbatasan ini, kami tetap bisa hadir di LKBB-PB,” ungkapnya. Namun, keberuntungan mereka adalah ekstrakurikuler baris berbaris sudah lama terbentuk di sekolah, sehingga persiapan teknis lebih matang.
Kini, fokus regu beralih ke persiapan tingkat nasional. Akbar menegaskan bahwa timnya akan berlatih lebih keras lagi. “Menghadapi LKBB-PB tingkat nasional, kami memiliki waktu persiapan lebih lama. Kami akan berlatih lebih keras lagi,” pungkasnya.