SAMPIT — Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kotim melaporkan telah terjadi penyemaian garam sebanyak kurang lebih 1.000 kilogram atau satu ton di wilayah selatan, Kecamatan Teluk Sampit, pada Selasa lalu. Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel, menyebut operasi ini merupakan bagian dari program tingkat Provinsi Kalimantan Tengah yang posko utamanya berada di Palangka Raya.
“Untuk Kotim sudah dilakukan OMC melalui Palangka Raya. Kalau tidak salah, Selasa kemarin sudah ada penyemaian garam kurang lebih 1.000 kilogram,” ujar Rihel di Sampit, Jumat.
Hujan Mulai Turun di Sejumlah Kecamatan
Meski belum merata hingga pusat Kota Sampit, hasil dari rekayasa cuaca ini mulai terlihat dalam beberapa hari terakhir. Rihel menyebutkan, salah satu wilayah yang sempat diguyur hujan adalah Kecamatan Cempaga Hulu, disusul hujan singkat di Kecamatan Mentaya Kalang dan Telaga Antang.
“Memang tidak langsung di Kota Sampit, tetapi beberapa hari ini ada hujan di daerah Cempaga Hulu. Itu salah satu hasil dari OMC,” katanya.
Pelaksanaan penyemaian tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Proses ini sangat bergantung pada pemantauan atmosfer, termasuk keberadaan awan potensial, arah angin, serta kecepatannya. Karena itu, lokasi penyemaian bisa berubah-ubah mengikuti hasil pemantauan.
Patroli Udara Gabungan untuk Deteksi Titik Panas
Penerbangan OMC juga dimanfaatkan untuk patroli udara. Selain menabur garam, pesawat digunakan untuk memantau titik api dan mengidentifikasi awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
“Kalau ditemukan potensi awan hujan, biasanya dilaporkan dan kemudian dilakukan modifikasi cuaca untuk penyemaian garam,” jelas Rihel.
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung hingga 17 Agustus 2026 ini merupakan kerja sama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan BMKG. Setiap satu kali penerbangan, rata-rata membawa sekitar satu ton garam untuk disemai di wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan awan hujan.
289 Kejadian Karhutla, 483 Hektare Lahan Hangus
OMC dinilai penting mengingat kondisi sumber air di wilayah Sampit mulai menurun drastis. Berdasarkan informasi yang diterima Satgas, permukaan air di sejumlah lokasi kini berada lebih dari satu meter dari permukaan tanah. Kondisi ini membuat peluang hujan sangat dibutuhkan, baik untuk menjaga ketersediaan air maupun mendukung penanganan karhutla.
“Kalau memang potensinya ada, kenapa tidak dicoba. Ini salah satu upaya untuk mengurangi kekeringan. Kalau ada hujan, lumayan sehingga kondisi tidak sampai kering sekali,” tambahnya.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mencatat, hingga 13 Agustus 2026 sudah terjadi 289 kejadian karhutla di wilayah tersebut. Luas lahan yang terbakar mencapai lebih dari 483,66 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan, dengan Kecamatan Mentawa Baru Ketapang sebagai wilayah terparah yakni lebih dari 128 hektare.
Akumulasi titik panas (hotspot) di Kotim sejak Januari hingga saat ini bahkan telah mencapai 2.509 titik yang tersebar di seluruh kecamatan. Rihel pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mencegah karhutla karena dampaknya sangat besar.
“Kami terus memantau perkembangan di lapangan dan memaksimalkan setiap upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak kekeringan dan karhutla. Kami mengharapkan kerjasama seluruh elemen masyarakat,” demikian Rihel.