KALIMANTAN TENGAH — Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah akan memberlakukan pembelajaran bahasa asing bagi siswa sekolah dasar (SD) mulai kelas 1. Kebijakan ini disampaikan dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Keputusan ini diambil untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja Indonesia yang selama ini kerap terkendala hambatan komunikasi saat bersaing di pasar global. Dengan bekal bahasa asing, Presiden menilai anak-anak akan memiliki kemampuan lebih saat memasuki dunia profesional.
Delapan Bahasa Prioritas dan Alasan Pemilihannya
Pemerintah tidak hanya menyiapkan satu atau dua bahasa. Ada delapan bahasa asing yang masuk daftar prioritas pembelajaran, yaitu Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, Spanyol, Prancis, dan Rusia.
Pemilihan bahasa-bahasa tersebut mengikuti peta kebutuhan ekonomi dan hubungan bilateral Indonesia. Presiden menyebut China, Jepang, Korea Selatan, Prancis, Spanyol, serta negara-negara berbahasa Arab memiliki ikatan ekonomi dan kebutuhan tenaga kerja yang erat dengan Indonesia.
Target Utama: Perawat dan Pekerja Sektor Pariwisata
Kebutuhan tenaga kerja Indonesia di luar negeri paling besar berada pada sektor layanan publik. Presiden secara spesifik menyebut sektor pariwisata, rumah sakit, hingga layanan perawatan lansia sebagai bidang yang paling membutuhkan pekerja dengan kemampuan bahasa mumpuni.
"Mereka butuh untuk kerja di bidang pariwisata, pariwisata ya harus belajar bahasa. Mereka butuh di rumah sakit mereka, mereka butuh perawat, butuh caregiver, harus bisa bahasa," tutur Prabowo dalam pidatonya.
Modal Dasar Pekerja Indonesia dan Target Daya Saing
Menurut Presiden, tenaga kerja Indonesia sebenarnya memiliki modal dasar yang kuat berupa keramahan, keuletan, dan kesopanan. Namun, tanpa dukungan keterampilan berbahasa, modal tersebut tidak cukup untuk menembus pasar kerja internasional yang kompetitif.
Presiden menegaskan bahwa penguasaan bahasa asing merupakan syarat mutlak yang harus dikuasai generasi penerus. Ia berharap kebijakan ini mampu mendorong tenaga kerja Indonesia diterima di berbagai perusahaan dan institusi global.
"Anak-anak kita harus punya akses terhadap pendidikan terbaik agar mereka nanti kalau sudah mencari lapangan kerja, mereka punya kemampuan lebih, mereka bisa diterima di mana-mana, mereka bisa kerja dengan pihak mana pun," ujarnya.
Alasan Pengajaran Dimulai Sejak Kelas 1 SD
Pilihan memulai pembelajaran di kelas 1 SD bukan tanpa dasar. Presiden menilai anak-anak memiliki kemampuan menyerap bahasa asing jauh lebih cepat dibandingkan orang dewasa.
Pada usia dini, kemampuan kognitif anak masih sangat fleksibel sehingga proses akuisisi bahasa baru berjalan lebih alami. Kebijakan ini diharapkan menjadi fondasi jangka panjang bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia di kancah internasional, sekaligus memperkuat perekonomian nasional melalui pengiriman tenaga kerja terampil.