KALIMANTAN TENGAH — Brasil kembali gagal di Piala Dunia. Langkah mereka terhenti di babak 16 besar setelah takluk 2-1 dari Norwegia. Kekalahan ini membuat mimpi meraih hexa—gelar juara dunia keenam—kembali kandas. Di Brasil, periode tanpa gelar ini bahkan dijuluki reverse hexa.
Kritik Pedas untuk Ancelotti dan Skuad Selecao
“Ini generasi yang tidak memenangkan apa pun,” ujar Neto, mantan pemain timnas yang kini menjadi komentator Radio Bandeirantes. Ia menyebut kampanye Brasil di turnamen ini memalukan. “Ini generasi penuh kebohongan, mereka pecundang,” tambahnya dengan nada sinis.
Pelatih Carlo Ancelotti tak luput dari hujatan. Cahê Mota dari Globoesporte menilai keputusan taktis Ancelotti justru memperburuk permainan. “Brasil bertaruh pada jebakan taktik: memberikan bola pada Norwegia dan mengandalkan serangan balik cepat. Itu tidak berhasil,” tulisnya.
Statistik Memalukan: Penguasaan Bola Terendah Sejak 1966
Data statistik menjadi bukti nyata kemunduran Brasil. Sepanjang laga, Selecao hanya menguasai bola 34 persen—rekor terendah mereka di Piala Dunia sejak pencatatan dimulai pada 1966. “Memalukan melihat tim Brasil yang selama ini mengandalkan joga bonito justru menyerahkan bola pada lawan,” kata Mauro Cezar Pereira, salah satu pengamat paling berpengaruh di Brasil.
Pereira menyebut gaya bermain Brasil sebagai “pengecut” dan tidak akan pernah diterima publik. “Kualitas pekerjaan Carlo Ancelotti sungguh memalukan,” tegasnya.
Keputusan Kontroversial: Memasukkan Neymar Justru Bikin Bencana
Keputusan Ancelotti menurunkan Neymar dari bangku cadangan menjadi perdebatan sengit. Neymar masuk di babak kedua, menggantikan peran Vinícius Júnior dan Endrick yang diminta melebar. Alih-alih memperbaiki permainan, langkah ini justru dianggap sebagai bunuh diri taktis.
“Dari saat dia masuk, Norwegia semakin menguasai bola. Mereka terus menyerang hingga mencetak gol. Dengan Neymar, Endrick, dan Vinícius, Brasil justru semakin lemah dalam duel dan perebutan bola. Bunuh diri,” kata Pereira.
Penalti Bruno Guimarães yang gagal dimanfaatkan di babak pertama juga disebut sebagai titik balik. “Seandainya penalti itu masuk, mungkin jalannya pertandingan akan berbeda,” ujar Mota.
Neymar Pensiun, Publik Minta Regenerasi Total
Usai pertandingan, Neymar mengumumkan pensiun dari tim nasional. “Saya sudah mencoba. Dimulai di MetLife Stadium, dan berakhir di sini. Sekarang sudah selesai,” ucapnya. Banyak pihak di Brasil mendorong regenerasi penuh—menyingkirkan Neymar, Casemiro, dan generasi seusianya.
Fokus kini beralih ke Copa América yang akan digelar dua tahun mendatang, kemungkinan besar di Amerika Serikat. Jika Ancelotti kembali gagal di turnamen tersebut, kontrak senilai 8,5 juta poundsterling per tahunnya dipastikan tak akan bertahan lama.