KALIMANTAN TENGAH — Partai puncak ini menjadi final ketiga sekaligus yang terakhir bagi Messi di Piala Dunia. Sang megabintang berusia 39 tahun berpeluang membawa pulang trofi keduanya setelah sukses di Qatar 2022. Spanyol datang dengan misi menghentikan misi tersebut.
Menjauhkan Messi dari Kotak Penalti, Kunci Pertama Spanyol
Rodri menjelaskan dua langkah utama yang sudah disiapkan. Pertama, menjauhkan Messi dari area kotak penalti. Kedua, menjaga jarak sangat rapat dengan pressing agresif saat bertahan.
"Kami harus berada lebih dekat dengannya dan bermain lebih agresif. Mungkin tidak terlalu banyak bertahan ke belakang," ujar gelandang Manchester City itu dalam wawancara dengan Diario As, dikutip World Soccer Talk.
Prinsip Agresif La Roja: Menekan, Bukan Bertahan Pasif
Rodri menegaskan pendekatan itu bukan sekadar taktik dadakan. Skema tersebut justru menyatu dengan DNA Spanyol yang selalu menekan ke depan untuk merebut kontrol permainan.
"Kami adalah tim yang menekan ke depan untuk memaksa lawan bermain ke belakang. Saya rasa itulah kunci pertandingan hari Minggu," kata Rodri. Ia mengingatkan kewaspadaan ekstra karena Messi kerap sulit diprediksi.
Kekaguman Rodri pada Messi: Pemain Terbaik di Usia 39
Di balik persiapan taktis, Rodri tak bisa menyembunyikan rasa hormatnya. Ia memuji konsistensi Messi yang masih tampil gemilang di usia 39 tahun.
"Messi berbicara melalui apa yang telah ia lakukan. Kariernya sudah berbicara dengan sendirinya. Bertahun-tahun bermain di level tertinggi dan masih menjadi pemain terbaik di Piala Dunia sungguh luar biasa," ujarnya.
Spanyol Tak Boleh Terpaku pada Satu Nama
Meski Messi menjadi ancaman utama, Rodri mengingatkan rekan setimnya untuk tidak terfokus pada satu pemain. Argentina memiliki skuad solid di setiap lini.
"Bagi mereka, Messi lebih dari sekadar pemain. Dia adalah anutan sekaligus pemimpin. Namun, kami harus mampu mengendalikan Argentina dalam setiap fase permainan," tegas Rodri.
Di kubu Spanyol, sejumlah pemain muda seperti Pau Cubarsi, Pedri, Gavi, dan Lamine Yamal tumbuh dengan mengidolakan Messi semasa di Barcelona. Final ini menjadi ujian sejati bagi generasi baru La Roja.