KALIMANTAN TENGAH — Pimpinan Perum Bulog Cabang Lampung Selatan, Fedrial Farhan, mengatakan pihaknya aktif turun ke lapangan selama musim panen untuk memantau produksi dan mempercepat proses pembelian. "Penyerapan hasil panen petani merupakan bagian dari komitmen Bulog dalam menjaga kesejahteraan petani khususnya di Lampung Selatan, sekaligus memastikan ketersediaan cadangan pangan pemerintah," ujarnya di Kalianda, Senin.
Kebijakan ini memberikan kepastian pasar bagi petani. Dengan adanya Bulog sebagai pembeli, harga gabah tidak anjlok saat panen raya. Fedrial menambahkan, Bulog juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah, dinas pertanian, dan pelaku usaha penggilingan padi agar proses pengadaan berjalan lancar.
Angka Penyerapan dan Dampak ke Petani
Dari total penyerapan, gabah mendominasi dengan 120.000 ton, sementara jagung mencapai 933 ton. Angka ini menunjukkan Bulog Lampung Selatan fokus pada komoditas pangan utama. Para petani di kabupaten tersebut diuntungkan karena hasil panen mereka terserap tanpa potongan harga yang merugikan.
"Kami terus berupaya semaksimal mungkin menyerap hasil panen petani lokal agar dapat memberikan manfaat langsung bagi petani sekaligus memperkuat stok cadangan pangan," ujar Fedrial. Langkah ini juga memutus rantai tengkulak yang kerap menekan harga di tingkat petani.
Koordinasi dan Target ke Depan
Bulog Lampung Selatan tidak bekerja sendiri. Mereka menggandeng gapoktan dan penggilingan padi untuk memperluas jangkauan penyerapan. Koordinasi dengan dinas pertanian setempat juga dilakukan untuk memetakan wilayah produksi dan jadwal panen.
Dengan optimalisasi ini, Bulog berharap keseimbangan pasokan dan permintaan beras di pasar tetap terjaga. Program ini sejalan dengan target pemerintah mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan. Jika panen raya berikutnya meningkat, Bulog siap menambah kapasitas serapan.
Langkah Bulog Lampung Selatan menjadi contoh bagaimana BUMN pangan bisa menjadi penyangga harga dan stok. Petani tidak lagi khawatir hasil panennya tidak laku, sementara pemerintah memiliki cadangan beras yang cukup untuk intervensi pasar jika harga melonjak.