KALIMANTAN TENGAH — José Mourinho kembali ke Camp Nou untuk pertama kali sejak 2013, kini sebagai pelatih Real Madrid yang ditugaskan menghentikan dominasi Barcelona. Laga El Clasico pada Minggu malam menjadi ujian pertama bagi Mourinho di era keduanya bersama Los Blancos.
Mourinho tiba di Santiago Bernabeu pada musim panas lalu dengan reputasi yang sudah terbentuk: sosok yang pernah "menghancurkan" Barcelona di semifinal Liga Champions 2010 bersama Inter Milan. Kini ia diminta mengulangi hal serupa, kali ini dari kursi pelatih Madrid.
Perjalanan Mourinho di Camp Nou bukan hal baru. Tiga puluh tahun lalu ia datang sebagai penerjemah muda Bobby Robson, lalu pergi sebagai salah satu pelatih paling kontroversial dalam sejarah rivalitas dua klub ini.
Pada 1996, Mourinho memulai karier kepelatihannya di Barcelona sebagai asisten Robson, lalu Louis van Gaal. Pengalaman itu membentuk pemahamannya tentang budaya klub Catalan, sesuatu yang kemudian ia gunakan untuk melawan mereka.
Kepindahannya ke Madrid pada 2010 terjadi sehari setelah ia membawa Inter menjuarai Liga Champions. Saat itu, Mourinho berlari melintasi lapangan Camp Nou dengan jari terangkat, merayakan kemenangan yang menghentikan Barcelona.
Florentino Perez, presiden Madrid, menyebut Mourinho sebagai "galactico tahun ini". Ia percaya Mourinho bisa mengembalikan Madrid ke jalur juara setelah Barcelona mendominasi dengan inti tim Spanyol yang menjuarai Piala Dunia 2010.
Masa bakti Mourinho di Madrid berlangsung tiga tahun penuh ketegangan. Ia memenangi La Liga 2011/2012, tapi juga terlibat konflik dengan ruang ganti dan media. Mourinho sendiri menyebut periode itu sebagai "tiga tahun yang intens, hampir brutal".
El Clasico pertamanya berakhir kekalahan 0-5 dari Barcelona. Meski begitu, Perez tetap menganggap Mourinho sebagai pelatih yang paling ia sukai, bahkan saat sang pelatih bersikap belligerent terhadap lawan maupun internal klub.
Dari empat kompetisi yang gagal dimenangi Guardiola di Barcelona, tiga di antaranya direbut Mourinho. Catatan itu menjadi pembenaran bagi Perez untuk membawa Mourinho kembali.
Real Madrid kini telah dua tahun tanpa gelar. Musim lalu, Barcelona menjuarai La Liga dengan selisih tiga pekan lebih cepat, memastikan gelar lewat kemenangan El Clasico yang telak. Spanyol juga menjuarai Piala Dunia dengan delapan pemain Barcelona di skuad.
Kondisi itu membuat Perez kembali memanggil Mourinho. Sosok yang dianggap punya otoritas untuk mengatur ruang ganti dan berani berperang melawan Barcelona, terutama setelah pernyataan keras Perez pada Mei lalu soal kasus Negreira.
Barcelona diduga membayar José María Enríquez Negreira, wakil presiden komite wasit, lebih dari 7 juta euro antara 2001 dan 2018. Kasus itu masih belum tuntas hingga kini.
Bintang muda Barcelona, Lamine Yamal, menyambut baik kembalinya Mourinho ke Camp Nou. Ia mengaku menyukai tensi dan drama yang selalu menyertai El Clasico era Mourinho.
"Saya suka jarumnya. Era Mourinho-Guardiola, saya suka semua itu. Itu sepak bola. Olahraga itu serius tapi saya ingin pertunjukan dan kami lebih bersenang-senang," kata Yamal.
Mourinho sendiri menyadari El Clasico bukan laga biasa. "El Clasico hanya pertandingan lain di kejuaraan, tapi mengatakan ini pertandingan seperti yang lain adalah kebohongan, sepenuhnya tidak nyata," ujarnya.
Laga Minggu malam menjadi tolok ukur apakah Mourinho masih mampu menerapkan taktik defensif agresif yang dulu membawa Inter mengalahkan Barcelona. Madrid saat ini tertinggal dalam perburuan gelar dan butuh kemenangan untuk menjaga peluang.
Bagi Barcelona, El Clasico ini adalah kesempatan membuktikan dominasi mereka masih berlanjut meski Mourinho kembali. Lamine Yamal dan rekan-rekan akan berusaha memperpanjang catatan buruk Madrid di Camp Nou.