PALANGKA RAYA — Gubernur Kalimantan Tengah H Agustiar Sabran menilai pencegahan karhutla tidak bisa hanya dibebankan kepada jajaran pemerintah daerah. Karena itu, ia meminta tokoh lintas agama ikut ambil bagian menyosialisasikan bahaya membuka lahan dengan cara dibakar kepada warga di sekitar tempat ibadah masing-masing.
Ajakan itu disampaikan Agustiar di hadapan perwakilan organisasi keagamaan Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha dalam pertemuan di Palangka Raya, Jumat (23/10/2026).
"Saya sangat berharap kepada seluruh tokoh lintas agama agar turut bersinergi dengan Pemprov Kalteng untuk mencegah terjadinya karhutla di seluruh wilayah Kalteng," ujarnya.
Pemprov Kalteng telah menjalankan sejumlah langkah penanganan sejak karhutla dan kabut asap melanda wilayah itu. BPBD diterjunkan bersama pemadam kebakaran masyarakat dan swasta, sementara posko karhutla didirikan di sejumlah titik.
Untuk mengurangi dampak kabut asap terhadap warga, pemerintah menyediakan rumah singgah oksigen. Masker, obat-obatan, dan bantuan sembako juga dibagikan kepada masyarakat di 14 kabupaten/kota.
Wilayah Kalteng memang rutin berhadapan dengan karhutla pada musim kemarau. Asap yang membumbung tidak hanya mengganggu aktivitas warga setempat, tetapi juga berdampak pada sektor penerbangan dan kesehatan.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalteng Prof Dr KH Hairil Anwar Mah mendukung langkah pemerintah dan mengajak seluruh tokoh agama berdoa menurut keyakinan masing-masing. Menurut dia, doa dan kerja nyata harus berjalan seiring.
"Mari kita semua bersatu padu untuk bersama-sama membantu upaya keras yang dilakukan jajaran Pemprov Kalteng dalam memerangi karhutla saat ini," ungkapnya.
Hairil juga menyinggung rencana aksi lanjutan mahasiswa dan organisasi masyarakat. Ia menyatakan penyampaian pendapat di muka umum merupakan hak yang dilindungi undang-undang.
Meski begitu, ia mengimbau agar aspirasi disampaikan secara santun, bijaksana, dan tetap menjunjung etika di tengah masyarakat.
Peran tokoh agama dinilai efektif menjangkau warga hingga tingkat RT/RW. Ceramah dan pengajian di masjid, gereja, pura, dan vihara menjadi kanal informasi yang lebih dipercaya ketimbang imbauan resmi semata.
Pemprov Kalteng berharap pola sinergi ini menekan jumlah titik panas sekaligus mempercepat penanganan kabut asap yang melanda sejumlah daerah.