Fifa Peace Prize Dirombak Usai Dikritik Gegara Trump, Infantino Diminta Bereskan

Penulis: Faizal Ramadhan  •  Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:49:01 WIB
FIFA memindahkan pengelolaan FIFA Peace Prize ke komite tanggung jawab sosial usai penghargaan itu menuai kritik.

KALIMANTAN TENGAH — Fifa memindahkan pengelolaan Fifa Peace Prize ke komite tanggung jawab sosial usai penghargaan itu menuai cemoohan karena diberikan kepada Donald Trump. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya menyelamatkan muka Presiden Fifa Gianni Infantino, bukan membubarkan penghargaan yang sejak awal dianggap palsu.

Fifa Peace Prize menjadi salah satu penghargaan paling banyak diejek dalam sejarah sepak bola. Penerima pertamanya, Donald Trump, membuat reputasi penghargaan itu tercoreng sejak upacara penganugerahan digelar.

Kini presiden Fifa Gianni Infantino menyerahkan pengelolaan penghargaan tersebut kepada komite tanggung jawab sosial yang beranggotakan 22 orang. Komite itu diberi tugas merombak Fifa Peace Prize menjadi pengakuan atas harmoni sosial dan tanggung jawab, bukan lagi diberikan kepada politikus.

Penghargaan Pertama Sukses, tapi Bukan untuk Perdamaian

Dalam konteks tujuannya semula, pemberian Fifa Peace Prize pertama justru berjalan sesuai rencana. Infantino menciptakan penghargaan itu untuk menyenangkan Trump, sosok yang ia butuhkan agar tetap berpihak pada Fifa demi mengamankan pendapatan dari pasar Amerika Utara.

Trump menerima medali besar berlapis emas dan langsung mengalungkannya ke leher sendiri. Momen itu disebut membuat Trump sesaat melupakan obsesinya terhadap Nobel Perdamaian.

Keputusan memindahkan pengelolaan penghargaan ke komite internal dibaca sebagai cara Infantino menghindari pengakuan bahwa Fifa Peace Prize memang hadiah palsu sejak awal. Penghargaan itu tidak dibubarkan, melainkan dirombak agar tidak lagi menjadi sumber malu.

Komite 22 Orang dan Tugas Depolitisasi

Komite tanggung jawab sosial merupakan satu dari puluhan komite tetap bentukan Infantino yang bertugas membagikan tunjangan harian kepada para sekutunya. Komite ini diminta menjauhkan Fifa Peace Prize dari urusan politik, atau setidaknya berhenti memberikannya kepada politikus.

Dalam waktu dekat tidak ada lagi pemimpin otoriter yang perlu dirayu. Mohammed bin Salman, penguasa de facto Arab Saudi sekaligus tuan rumah Piala Dunia 2034, disebut tidak tertarik pada model penghargaan semacam itu.

Versi pertama Fifa Peace Prize akan tercatat sebagai monumen kesombongan Infantino dan eranya membungkuk kepada pemimpin kuat. Catatan itu berlaku jika Infantino selamat dari polemik rencana memprivatisasi sebagian Piala Dunia dan lolos dari pemilihan presiden berikutnya.

Versi Baru Bisa Angkat Kebaikan Sepak Bola

Fifa Peace Prize versi kedua berpeluang menyoroti sisi baik olahraga yang sesekali muncul. Penghargaan itu bisa menjadi panggung bagi mereka yang memanfaatkan pengaruh budaya sepak bola untuk memperbaiki hidup orang lain.

Afghan Women United layak dipertimbangkan setelah diakui sebagai perwakilan resmi negaranya meski bermain sebagai pengungsi di pengasingan. Pada Juni mereka melakoni dua laga persahabatan melawan Kepulauan Cook di Selandia Baru dan kalah di keduanya, tetapi keberadaan tim itu sendiri menjadi protes keras terhadap Taliban yang kembali menindas perempuan sejak merebut Kabul pada 2021.

Klub Ukraina Shakhtar Donetsk juga masuk daftar setelah bertahan dan tetap berprestasi meski invasi Rusia ke wilayah Donbas memaksa mereka bermain di tempat lain selama lebih dari satu dekade.

Dari Juan Mata sampai Tartan Army

Nama Juan Mata muncul lewat gerakan Common Goal yang membujuk pemain dan pelatih menyumbangkan 1 persen pendapatan mereka untuk amal. Marcus Rashford didorong pemerintah Inggris menyediakan makanan bagi anak-anak selama pandemi.

Sadio Mane membiayai pembangunan rumah sakit dan proyek infrastruktur lain di Senegal, sementara N'Golo Kante melakukan hal serupa di Mali. Tartan Army, pendukung Skotlandia, mengumpulkan dana untuk badan amal anak di setiap kota yang mereka datangi.

Para pemain timnas Inggris juga rutin menyumbangkan honor pertandingan mereka untuk amal sejak 2007. Totalnya menembus 6,7 juta dolar AS atau sekitar 5 juta pound sterling.

Pertanyaan soal kaitan semua itu dengan perdamaian wajar muncul. Fifa Peace Prize sebaiknya diganti nama agar lepas dari asosiasi dengan pemimpin negara Barat paling tidak damai dalam beberapa generasi. Aturan dan kualifikasi penerima juga harus jelas, termasuk soal politik.

Sebuah penghargaan tidak bisa sekaligus mengakui kebaikan sosial dan bersikap apolitis. Selama Fifa Peace Prize jujur menghargai warga terbaik sepak bola dan tidak melayani kepentingan pribadi presiden Fifa, perombakan ini tetap layak diberi ruang.

Reporter: Faizal Ramadhan
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top