KALIMANTAN TENGAH — Kekayaan Jacqueline Mars menembus US$50,3 miliar atau sekitar Rp804,8 triliun, menempatkannya di urutan 36 dalam daftar orang terkaya dunia versi Forbes. Angka itu berasal dari kepemilikan saham mayoritas Mars Inc., perusahaan swasta yang menaungi Snickers, M&M's, hingga Whiskas. Di balik nominalnya, Jacqueline bukan sekadar pewaris yang menunggu dividen.
Jacqueline Mars lahir 10 Oktober 1939 sebagai cucu Frank C. Mars, pendiri Mars, Inc. Kepemilikan saham mayoritas perusahaan keluarga itu ia terima bersama saudaranya, John Mars dan mendiang Forrest Mars Jr. Sejak awal, Jacqueline memilih terlibat langsung dalam operasional ketimbang hanya menerima warisan.
Kiprahnya di Mars berlangsung sejak 1982 hingga 2001. Dalam rentang itu ia pernah menjabat President of the Food Product Group dan memimpin divisi makanan segar serta olahan. Setelah pensiun dari posisi eksekutif, Jacqueline tetap duduk di Dewan Direksi Mars sampai 2016.
Di kursi dewan, Jacqueline bertugas memastikan transisi kepemimpinan berjalan mulus. Satu prinsip yang dijaga: Mars tetap tumbuh sebagai perusahaan swasta. Mars dikenal sebagai salah satu perusahaan swasta terbesar dunia yang konsisten menolak Penawaran Umum Perdana (IPO) di pasar saham.
Ada beberapa alasan di balik sikap itu. Orientasi bisnis jangka panjang menjadi pertimbangan utama, karena pasar saham kerap menuntut perusahaan mengejar kinerja keuangan jangka pendek. Keluarga juga ingin memastikan kontrol perusahaan 100 persen berada di tangan mereka, sebagaimana bertahan sejak 1911. Rahasia bisnis dan strategi pun lebih terjaga sebagai private company.
Meski dibesarkan di lingkungan bisnis raksasa, Jacqueline memilih mendalami ilmu humaniora. Ia menempuh pendidikan di Bryn Mawr College dan lulus pada 1961 dengan gelar Sarjana Antropologi. Latar belakang itu membentuk sudut pandangnya yang mengedepankan pemahaman budaya, tata kelola sosial, dan hubungan antarmanusia.
Keterikatan dengan almamaternya tidak putus. Mengutip laman Bryn Mawr College, Jacqueline aktif berdonasi untuk kampus tersebut dan menjabat sebagai Trustee Emeritus, gelar kehormatan non-eksekutif bagi mantan anggota Board of Trustees atas jasa dan kontribusinya.
Kontribusi terbarunya berupa donasi transformatif senilai US$10 juta atau sekitar Rp150 miliar lebih, khusus mendukung program beasiswa mahasiswa sarjana. Tujuannya memastikan akses pendidikan tinggi yang lebih inklusif.
Di luar bisnis dan filantropi pendidikan, Jacqueline merupakan penunggang kuda ulung sekaligus pemilik peternakan dan perkebunan pribadi Stonehall Farm di Virginia. Ia menjadi donatur penting bagi industri olahraga berkuda Amerika Serikat, membiayai atlet berkuda untuk ajang internasional dan Olimpiade.
Tanah pertanian miliknya didaftarkan ke dalam perjanjian hak guna konservasi agar kelestariannya terjaga secara permanen. Jacqueline juga pernah memimpin dewan Washington National Opera dan memegang posisi strategis di Smithsonian Institution serta National Archives Foundation.
Bagi pelaku bisnis, struktur kepemilikan Mars menjadi contoh bagaimana perusahaan keluarga berskala global mempertahankan kendali penuh tanpa tekanan kuartalan pasar modal. Bagi publik, rekam jejak Jacqueline menunjukkan jalur karier di perusahaan warisan tetap bisa dibangun lewat keterlibatan operasional, bukan semata hak waris.