PALANGKA RAYA — Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan titik kebakaran baru terdeteksi di kawasan konservasi Taman Nasional Tanjung Puting dengan luas area terdampak diperkirakan mencapai 513,89 hektare. Upaya pemadaman saat ini mengandalkan penguatan satuan tugas darat.
Operasi pemadaman jalur udara atau water bombing menghadapi tantangan berat akibat jarak pandang yang sangat terbatas karena tutupan asap tebal. Kondisi itu membuat pemadaman dari udara belum bisa diandalkan sepenuhnya.
Presiden Prabowo menegaskan kelestarian Taman Nasional Tanjung Puting harus diprioritaskan mengingat statusnya sebagai kawasan konservasi kebanggaan Indonesia. Kawasan itu juga menjadi ekosistem penting bagi flora dan fauna terlindungi.
"Taman Nasional Tanjung Puting menjadi perhatian karena itu taman nasional," tegas Presiden Prabowo.
Selain penanganan darurat, Prabowo menekankan pentingnya langkah pencegahan jangka panjang dengan memperkuat benteng pertahanan kawasan hutan Indonesia.
Presiden menginstruksikan penambahan jumlah dan peningkatan kapasitas personel Polisi Hutan (Polhut) secara bertahap. Formasi yang diminta mencapai 70.000 personel dan diajukan kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB).
Prabowo juga menggandeng Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk membantu mendidik dan meningkatkan keterampilan taktis personel Polhut di lapangan.
"Karena itu tolong sampaikan ke MenPANRB, kalau memang saya minta 70 ribu polisi hutan karena ada maksud untuk menjaga hutan-hutan kita. Kapolri nanti bisa bantu ya didik polisi hutan," ujar Prabowo.
Pangdam XXII/Tambun Bungai, Mayjen TNI Zainul Arifin, melaporkan kondisi geografis penanganan kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting. Titik api tersebar di kawasan rawa yang sulit diakses kendaraan taktis darat.
Satgas membutuhkan setidaknya 50 unit pompa air portabel berukuran kecil dan sumur bor dangkal dengan kedalaman 10–15 meter untuk mendapatkan sumber air. Presiden merespons laporan itu dengan melipatgandakan bantuan yang diminta.
Pengerjaan 200 titik bor air tersebut juga diinstruksikan melibatkan masyarakat setempat secara langsung. Langkah itu diharapkan mempercepat penyediaan sumber air di area rawa sekaligus memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan warga lokal dalam menanggulangi karhutla ke depan.