Karhutla di Ujung Landasan Bandara Sampit Meluas ke Lahan Gambut, Wabup Kotim Terjun Langsung ke Lokasi

Penulis: Irfan Hakim  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 01:03:31 WIB
Wakil Bupati Kotim Irawati meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan di kawasan ujung landasan Bandara Haji Asan Sampit, Rabu (26/8/2026).

SAMPIT — Kobaran api yang melahap semak belukar dan lahan gambut di Jalan Tjilik Riwut Kilometer 6, tepatnya di sekitar ujung landasan Bandara Haji Asan Sampit, menjadi prioritas penanganan Satgas Karhutla dan Kekeringan Kotim. Titik api yang mulai terdeteksi sekitar pukul 13.10 WIB ini mendapat perhatian ekstra karena berada dalam zona KKOP yang langsung berhubungan dengan jalur penerbangan.

Wakil Bupati Kotim Irawati menyebut, laporan awal yang diterimanya langsung ditindaklanjuti dengan menghubungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) setempat. "Karena ini landasan KKOP dan sebentar lagi penerbangan Super Air Jet yang dijadwalkan mendarat di Kota Sampit," ujarnya di lokasi kebakaran, Rabu.

Kolaborasi TNI-Polri dan Relawan Mempercepat Pemadaman

Respons cepat dilakukan dengan mengerahkan personel tambahan serta armada dari Kodim 1015/Sampit dan Polres Kotim. Dandim 1015/Sampit Letkol Inf Dwi Candra Setyawan dan Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain turut memantau langsung proses pemadaman di lokasi, menunjukkan sinergi lintas sektor dalam menghadapi darurat asap.

Keterlibatan berbagai unsur ini diapresiasi Irawati. Ia menilai kolaborasi yang terbentuk berhasil mencegah api semakin membesar, meskipun material gambut yang mengering membuat upaya pemadaman berlangsung alot. "Kita lihat sendiri hari ini kerja sama yang sangat luar biasa sehingga pemadaman berjalan dengan lancar," kata Irawati, yang juga sempat membantu pengamanan arus lalu lintas saat kabut asap pekat menyelimuti ruas jalan dan mengganggu jarak pandang pengendara.

Kendala di Lapangan: Akses Sulit dan Api Bawah Tanah

Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam menjelaskan, penanganan karhutla di kawasan KKOP memang membutuhkan upaya lebih dibandingkan lokasi lain. Aspek keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama, sehingga transportasi udara harus tetap bisa beroperasi normal. "Penanganan di kawasan KKOP memang agak ekstra karena bagaimana transportasi udara tetap bisa jalan seperti biasanya," ungkap Multazam.

Selain di Kilometer 6, perhatian juga difokuskan pada kebakaran di Jalan Jaksa Agung yang masih berada dalam kawasan KKOP. Jarak titik api yang mencapai 500 hingga 550 meter dari pinggir jalan menjadi kendala tersendiri. Vegetasi berupa hutan sekunder dan pionir membatasi pergerakan pasukan darat, sementara ketebalan lahan gambut berpotensi membuat api menjalar di bawah permukaan tanah.

9 Titik Api Ditangani Regu Gabungan Sepanjang Rabu

Berdasarkan laporan Pusdalops PB Posko Bencana Karhutla dan Kekeringan Kotim hingga pukul 13.30 WIB, setidaknya ada sembilan lokasi kebakaran yang ditangani secara bersamaan. Lokasi tersebut tersebar di Jalan Jaksa Agung, Jalan WMP 31 Jalur 7, Jalan Lingkar Utara Perumahan Sultan Bintang, Jalan Tjilik Riwut Kilometer 7, hingga Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 3,5 sampai Kilometer 2,5.

Personel BPBD, Disdamkarmat, dan Yonif Teritorial Pembangunan dikerahkan dalam sejumlah regu dengan kekuatan sembilan hingga 12 orang per unit. Suplai air dilakukan secara bergantian oleh tim BPBD, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan unsur pemadam lainnya. Regu yang sebelumnya bersiaga di Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 3,5 turut digeser menuju Kilometer 2,5, menyesuaikan perkembangan titik api di lapangan.

Data BPBD Kotim mencatat, sejak Januari hingga 25 Agustus 2026, telah terjadi 493 kejadian karhutla di wilayah tersebut. Angka ini menunjukkan ancaman kebakaran lahan yang semakin serius di tengah musim kemarau, yang menuntut kesiapsiagaan berkelanjutan dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah.

Reporter: Irfan Hakim
Sumber: kalteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top