SAMPIT — BPBD Kotim mencatat lonjakan kejadian karhutla dalam sepekan terakhir, dengan sebaran terbanyak berada di kawasan selatan Kabupaten Kotawaringin Timur. Kondisi ini memaksa pihaknya untuk memprioritaskan titik-titik yang dekat dengan permukiman warga, sementara sejumlah laporan kebakaran di area terpencil belum bisa dijangkau petugas secara maksimal.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengungkapkan, situasi di lapangan saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan jumlah kejadian berbanding lurus dengan luas lahan yang terbakar, sehingga mobilisasi personel dan armada pemadam harus terus diperkuat setiap harinya.
Api di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan Total
Multazam menegaskan, status padam untuk kebakaran di lahan gambut tidak bisa ditetapkan secara terburu-buru. Api yang tampak padam di permukaan masih berpotensi menyala kembali karena menjalar di bawah permukaan tanah.
"Kami tidak bisa menyatakan itu situasi padam, karena gambut ketika padam itu ekstra penanganannya," ujar Multazam, Selasa (18/8/2026).
Karakteristik api gambut disebutnya bergerak tidak mengenal waktu. "Dia bergeraknya tidak mengenal situasi, jadi bahkan malam dia tetap bergerak, menyala terus, masyarakat sekitar tidak sadar tiba-tiba sudah dekat dengan rumah," jelasnya.
Desa Lempuyang Jadi Titik Terluas, Kebun Warga Ikut Hangus
Salah satu lokasi dengan perluasan kebakaran terbesar saat ini berada di Desa Lempuyang. Area tersebut merupakan kawasan konsesi, sehingga penanganannya melibatkan koordinasi antarperusahaan dan pemerintah desa untuk mencari solusi bersama.
Di kawasan Kaca Piring, petugas masih melakukan pemantauan ketat karena sebagian titik api berada di wilayah pinggir dengan jarak sekitar 30–40 meter dari permukiman penduduk. Potensi merambat ke rumah warga dinilai sangat tinggi jika angin bertiup kencang.
Multazam menyampaikan keprihatinannya atas sejumlah kebun masyarakat yang ikut terbakar. Beberapa di antaranya merupakan tanaman berusia tanam baru dengan jumlah 200 hingga 300 pohon yang harus hangus sebelum sempat dipanen.
Perusahaan Sawit Diminta Bantu Padamkan Api di Luar Konsesi
Menghadapi meluasnya karhutla, BPBD Kotim tidak bisa bekerja sendiri. Pihaknya telah menyampaikan permintaan resmi kepada seluruh pemilik konsesi, terutama perkebunan sawit, untuk bahu-membahu menangani kebakaran baik di dalam maupun di luar wilayah konsesi.
"Kami sudah sampaikan kepada seluruh dunia usaha pemilik konsesi, terutama perkebunan sawit, untuk bahu-membahu menangani kebakaran baik di wilayah konsesinya ataupun di luar konsesi," ungkap Multazam.
Fenomena karhutla saat ini justru banyak terjadi di luar area konsesi, termasuk lahan kebun milik masyarakat. Hal ini menjadi perhatian serius karena keterbatasan akses dan sumber air kerap menjadi kendala utama di lapangan.
Koordinasi Harian dengan GAPKI dan Perusahaan
Untuk memastikan respons cepat, BPBD Kotim membangun mekanisme koordinasi rutin dengan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan perusahaan-perusahaan di wilayah tersebut. Setiap laporan kejadian yang masuk melalui BPBD maupun GAPKI akan disinkronisasi untuk menentukan prioritas penanganan.
"Setiap jam tiga sore kami akan Zoom dan kami coba sinkronisasi berbagai isu terkait penanganan Karhutla, semua pihak harus bersatu dalam penanganan karhutla," pungkasnya.
Sementara itu, sejumlah kawasan utara Kotim juga mulai melaporkan kejadian karhutla. Namun, BPBD menilai penanganan di wilayah tersebut relatif lebih terbantu karena adanya dukungan tim dari dunia usaha yang beroperasi di sekitar lokasi.