Kepala Pelaksana BPB-PK Kalteng Ahmad Toyib membuka langsung kegiatan di Aula Kantor BPB-PK, Jalan Tjilik Riwut Km. 7,8, Palangka Raya. Dalam arahannya, ia menyoroti kompleksitas pengelolaan pengungsian yang kerap dianggap remeh.
"Pengelolaan pengungsian adalah salah satu klaster paling krusial sekaligus kompleks dalam fase tanggap darurat," ujar Ahmad Toyib, Kamis (11/6/2026).
Ia menambahkan, tantangan di lapangan mencakup ketelitian pendataan, pemenuhan sanitasi dan air bersih yang layak, hingga kebutuhan spesifik gender. Perlindungan bagi kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan lansia juga menjadi prioritas utama.
Pemprov Kalteng telah membentuk TRC Penanggulangan Bencana Multisektor melalui Keputusan Gubernur Nomor 188.44/167/2024. Tim ini dirancang untuk mempercepat respons terpadu saat keadaan darurat, bukan kerja sektoral masing-masing instansi.
"Sebagai tim multisektor, koordinasi penanganan dampak bencana termasuk di dalamnya urusan pengungsian harus dilakukan secara terpadu, cepat, dan terintegrasi," tegas Ahmad Toyib.
Bimtek menghadirkan dua narasumber dari BNPB pusat: Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda Riky Budi Wibowo dan Iwan Hasanudin. Mereka didampingi jajaran BPB-PK Kalteng secara interaktif.
Total 45 peserta berasal dari lintas instansi, antara lain Dinas PUPR, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Perkimtan, Dinas Perhubungan, PMI, Satpol PP, dan Dinas Kominfosantik Provinsi Kalimantan Tengah.
Melalui pelatihan ini, anggota TRC diharapkan menguasai teknik kaji cepat kebutuhan pengungsi. Tujuannya bukan sekadar respons cepat, tetapi memberikan pelayanan terbaik yang memanusiakan dan bermartabat bagi masyarakat terdampak bencana di Bumi Tambun Bungai.
"Sinergi interdisipliner dan semangat kebersamaan harus terus diperkuat," pungkas Ahmad Toyib.