KALIMANTAN TENGAH — “Kritik seperti itu tentu sah. Demokrasi membutuhkan ruang bagi perbedaan pandangan. Namun persoalan muncul ketika angka dibaca secara terpisah dari konteksnya,” ujar Azis Subekti dalam keterangan resminya, Minggu (31/5). Ia menilai banyak kesimpulan publik yang keliru karena menjadikan statistik sebagai vonis, bukan sebagai alat untuk memahami realitas yang lebih utuh.
Politikus dari daerah pemilihan Jawa Tengah itu merinci data BPS dengan pendekatan source of growth. Konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi sebesar 2,94 poin terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Investasi menyumbang 1,79 poin, sementara konsumsi pemerintah hanya berada di kisaran 1,26 poin.
“Angka-angka tersebut menyampaikan pesan yang sederhana namun penting: ekonomi Indonesia tidak berdiri di atas satu kaki. Ia bergerak karena kombinasi antara aktivitas masyarakat, dunia usaha, dan kebijakan negara,” tegas Azis.
Azis mengakui tekanan eksternal tidak bisa diabaikan. Pasar keuangan global, menurutnya, mampu mempengaruhi ruang gerak negara melalui nilai tukar, arus modal, dan yield obligasi. “Pasar modern membaca disiplin, konsistensi, dan kredibilitas. Sering kali, ia membaca masa depan sebelum masa depan itu benar-benar tiba,” katanya.
Namun, ia memperingatkan agar negara tidak terjebak pada satu pilihan. “Kesalahan terbesar yang dapat dilakukan sebuah negara adalah memilih salah satu dan mengabaikan yang lain. Negara yang hanya mengejar penilaian pasar dapat kehilangan legitimasi sosialnya,” ujar anggota Komisi II DPR itu.
Menurut Azis, tantangan ke depan bukan sekadar menjaga rupiah stabil atau pertumbuhan di atas lima persen. Pemerintah harus memastikan kekuatan pasar domestik terus tumbuh melalui peningkatan produktivitas rakyat. “UMKM harus naik kelas. Koperasi harus menjadi institusi ekonomi modern. Petani harus memperoleh akses teknologi dan pembiayaan yang lebih baik,” paparnya.
Ia menambahkan bahwa hilirisasi harus menghasilkan pekerjaan dan devisa, bukan sekadar perpindahan aset. Negara, lanjutnya, harus terus berinovasi agar denyut ekonomi di akar rumput tidak kehilangan tenaga.
Azis menekankan bahwa Indonesia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara: pasar domestik yang luas, masyarakat yang adaptif, dan ekonomi rakyat yang terbukti menjadi bantalan saat dunia kehilangan keseimbangan. “Bukan layar perdagangan di pusat-pusat keuangan dunia. Melainkan jutaan rakyat yang setiap pagi membuka toko, mengolah sawah, menjalankan usaha, bekerja, berproduksi,” pungkasnya.
“Karena pada akhirnya, pasar memang menilai. Tetapi rakyatlah yang menentukan,” kata Azis menutup pernyataannya.