KALIMANTAN TENGAH — Kemarahan Trump memuncak setelah harga minyak mentah dunia melemah akibat tercapainya kesepahaman damai antara AS dan Iran. Kesepakatan itu meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global, yang seharusnya berdampak langsung pada harga di pompa bensin. Namun, realitas di lapangan menunjukkan harga BBM di AS belum turun secepat yang diharapkan.
Trump Minta Departemen Kehakiman Turun Tangan
Melalui akun Truth Social miliknya, Trump secara terbuka mengkritik perusahaan-perusahaan energi. "Perusahaan-perusahaan minyak besar tidak menurunkan harga bensin sebanding dengan penurunan tajam harga minyak yang mereka bayarkan," tulis Trump, dikutip dari laporan Olenka pada Kamis (25/6/2026).
Ia menilai masyarakat AS saat ini menjadi korban dari praktik penetapan harga yang tidak adil. Trump menegaskan harga bensin seharusnya turun lebih cepat dari yang terjadi saat ini. Dengan nada tegas, ia meminta Departemen Kehakiman untuk menelusuri kemungkinan adanya praktik yang membuat harga BBM tetap mahal di tingkat konsumen.
Penurunan Tak Sampai Setengah Dolar per Galon
Meskipun harga rata-rata bensin di AS dilaporkan telah turun sekitar 0,60 dolar AS per galon, Trump menilai angka tersebut masih jauh dari yang seharusnya dinikmati masyarakat. Penurunan itu dinilai tidak proporsional jika dibandingkan dengan anjloknya harga minyak mentah yang dibeli oleh para pengilang.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan pemerintahannya akan mengusut tuntas penyebab harga BBM yang tak kunjung turun. Ia mengancam akan mengambil tindakan hukum jika ditemukan bukti adanya pelanggaran atau praktik monopoli harga yang merugikan konsumen.
Kekesalan presiden ini menjadi sorotan karena isu harga BBM selalu menjadi topik sensitif di AS, terutama menjelang musim liburan dan mobilitas tinggi. Publik Amerika pun mulai berspekulasi apakah langkah Trump ini akan memicu kebijakan baru di sektor energi, seperti pemotongan pajak bahan bakar atau intervensi harga langsung.