PALANGKA RAYA — Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau langsung lokasi karhutla di Petuk Katimpun, Palangka Raya, Rabu, 19 Agustus 2026. Setelah itu, kunjungan dilanjutkan ke kawasan Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, saat warga mulai mengeluhkan udara berasap dan jarak pandang yang menurun.
Data Posko Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalteng per 18 Agustus 2026 mencatat luas lahan terbakar mencapai 3.896,43 hektare. Angka ini menjadi gambaran besarnya tantangan penanganan musim kering tahun ini.
Di lokasi peninjauan, Raja Juli menyebut Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai solusi ideal untuk membasahi lahan kering. Namun, implementasinya tidak bisa dilakukan sembarangan.
Kementerian Kehutanan berkoordinasi dengan BNPB dan BMKG untuk memastikan kondisi atmosfer dan awan memenuhi syarat sebelum penyemaian dilakukan. Sambil menunggu, tim gabungan terus melakukan pemadaman darat dan water bombing menggunakan helikopter.
Kabut asap kembali menyelimuti Palangka Raya pada pagi hari, membuat aktivitas luar ruangan tidak nyaman dan pengendara harus ekstra hati-hati. Kondisi ini ramai disorot warganet, termasuk akun X @antmegapolitan yang mengunggah situasi kabut asap pada 18 Agustus 2026.
Pemantauan 24 jam hingga 19 Agustus mendeteksi 239 hotspot di Palangka Raya. Kualitas udara kota sempat berada pada kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, sehingga anak-anak, lansia, dan warga dengan masalah kesehatan perlu lebih waspada.
Dampak kesehatan mulai terlihat di fasilitas layanan primer. Puskesmas Bukit Hindu mencatat 257 kasus ISPA sepanjang 1-18 Agustus 2026, meningkat dibandingkan 192 kasus pada Juli. Keluhan pasien didominasi batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan demam.
Peningkatan serupa terjadi di Puskesmas Pahandut, dari sekitar 170 kasus pada Juni menjadi sekitar 300 kasus pada Juli. Meski tidak otomatis seluruhnya disebabkan kabut asap, waktu peningkatannya bertepatan dengan memburuknya kualitas udara.
Dampak karhutla tidak hanya dirasakan di Palangka Raya. Kabut asap tebal juga dilaporkan menurunkan jarak pandang di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, serta menyelimuti Pontianak dan Kubu Raya di Kalimantan Barat pada 19 Agustus. Asap bergerak mengikuti arah angin, sehingga wilayah jauh dari titik api pun ikut terdampak.
Di sela kunjungan, Raja Juli bertemu Rudiansyah, pemuda yang membantu pemadaman karhutla di Petuk Katimpun dengan mengenakan kostum Superman. Menhut menyebutnya sebagai "forest hero" dan mengapresiasi keterlibatan warga dalam menjaga lingkungan.
Rudiansyah disebut memiliki cita-cita menjadi polisi hutan. Kisahnya menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla bukan hanya pekerjaan pemerintah, tetapi juga melibatkan peran aktif masyarakat.
Selain pemadaman, pemerintah menekankan penindakan hukum. Raja Juli menyampaikan bahwa pihak yang terbukti melakukan perusakan lingkungan akibat karhutla akan diproses sesuai ketentuan yang berlaku.