KALIMANTAN TENGAH — Bayangkan sebuah dapur yang selalu penuh stok biskuit, yogurt manis, dan sereal warna-warni, di mana anak bebas mengambil camilan kapan pun ia mau. Itulah gambaran umum dari seorang gummy bear mom, sebuah istilah yang belakangan ramai diperbincangkan di kalangan orang tua. Alih-alih menerapkan aturan ketat, para ibu ini justru memberi keleluasaan lebih pada anak untuk menikmati makanan, termasuk camilan manis, demi membangun hubungan yang positif dengan makanan sejak dini.
Menariknya, konsep ini menjadi kontras yang kuat dengan istilah almond mom yang sempat viral sebelumnya. Memahami perbedaan keduanya bisa membantu Bunda merefleksikan gaya pengasuhan yang selama ini diterapkan, tanpa perlu merasa salah atau kurang sempurna.
Ahli gizi anak, Dani Lebovitz, MS, RDN, menjelaskan bahwa secara garis besar, seorang gummy bear mom adalah orang tua yang tidak membatasi makanan anak secara ketat. Mereka cenderung membebaskan anak untuk menikmati berbagai jenis makanan, termasuk yang manis-manis, yang biasanya justru diatur sangat ketat oleh orang tua lain.
Lebovitz, yang juga penulis buku Food Positivity: How to Ditch Diet Culture and Talk to Kids About Food, menyebut para ibu ini sering dianggap sebagai "ibu yang seru" oleh anak-anaknya. "Mereka ingin makanan menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak-anaknya," ungkapnya dikutip dari The Bump. Fokus utamanya bukan sekadar membiarkan anak makan bebas, melainkan berusaha menghilangkan label 'baik' atau 'buruk' pada makanan, sehingga anak tidak tumbuh dengan rasa bersalah atau tekanan seputar apa yang mereka makan.
Tanpa sadar, mungkin Bunda sudah menerapkan gaya pengasuhan ini. Beberapa kebiasaan berikut bisa menjadi penanda bahwa Bunda adalah seorang gummy bear mom:
Berbanding terbalik dengan gummy bear mom, pola asuh almond mom justru sangat memperhatikan aturan makan. Orang tua dengan gaya ini cenderung memberi label makanan sebagai 'baik' dan 'buruk', serta kerap fokus pada kondisi fisik dan ukuran tubuh anak.
"Meski niatnya baik, tetapi pesan yang diterima anak-anak sering kali adalah bahwa makanan adalah sesuatu yang harus dikendalikan atau ditakuti," imbuh Lebovitz. Ia pun mengingatkan bahwa istilah viral seperti ini hanyalah pelabelan informal dan bukan merupakan pendekatan pengasuhan makanan yang resmi. "Istilah-istilah ini juga sangat samar, sehingga memberi banyak ruang bagi setiap orang untuk mengartikan secara berbeda-beda," pesannya.
Pendapat ahli gizi Lauren Manaker, MS, RDN, menegaskan bahwa kunci dari gaya pengasuhan ini tetaplah keseimbangan. "Dengan mengizinkan pemberian camilan manis dalam kehidupan sehari-hari, gummy bear mom mencontohkan gagasan bahwa tidak ada makanan yang secara inheren dicap 'buruk'. Anak-anak bisa menikmati segala sesuatu tanpa rasa bersalah, selama diatur dan dilakukan secara seimbang," jelas Manaker.
Lebovitz menambahkan, ketika orang tua berhasil menghilangkan penilaian terhadap makanan, anak akan lebih mudah memahami sinyal lapar dari tubuhnya sendiri. "Mereka mulai menyadari apa yang mereka sukai, apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana makanan membuat mereka merasakan sesuatu," tuturnya. Larangan berlebihan justru sering memicu anak untuk penasaran dan mencoba makanan secara diam-diam. Sebaliknya, pemahaman tentang keseimbangan membuat anak terbiasa menikmati camilan sebagai bagian normal dari kehidupan, tanpa perlu sembunyi-sembunyi.
Jika Bunda tertarik menerapkan konsep ini, tujuannya bukan membiarkan anak makan sesukanya. Kuncinya adalah menciptakan lingkungan yang seimbang di mana makanan bergizi dan camilan memiliki tempatnya masing-masing.
Pada akhirnya, menjadi orang tua adalah tentang menemukan ritme yang paling pas untuk keluarga Bunda. Tidak ada satu pun label yang harus diikuti secara kaku. Yang terpenting adalah anak tumbuh dengan bahagia, sehat, dan memiliki hubungan yang baik dengan makanan, tanpa rasa takut atau bersalah.