PALANGKA RAYA — Kabut asap mulai menyelimuti Palangka Raya seiring meluasnya karhutla di wilayah tersebut dan Kabupaten Pulang Pisau. Kondisi ini mendorong DPRD Kalimantan Tengah untuk mendesak percepatan penanganan di lapangan.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalteng, Tomy Irawan Diran, menegaskan bahwa helikopter water bombing harus segera dioptimalkan. Menurutnya, pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya seharusnya sudah menjadi bahan antisipasi bagi Satgas Karhutla.
“Helikopter itu, water bombing itu ya yang untuk air itu, itu pasti harus segera. Penanganan dini lah yang harus dilakukan,” ujar Tomy, Rabu (28/7/2026).
Salah satu kendala utama di lapangan adalah minimnya infrastruktur menuju lokasi kebakaran, seperti di Tumbang Nusa dan sejumlah titik di Palangka Raya. Tomy menilai hambatan ini seharusnya sudah bisa diantisipasi lebih awal.
“Sebenarnya kan persiapan sudah, pastinya sudah ada persiapan-persiapan yang dilakukan BPB-PK maupun pihak-pihak terkait termasuk polisi dan sebagainya,” ungkapnya.
Terkait pendanaan, Tomy memastikan bahwa anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) dapat dimanfaatkan untuk penanganan karhutla. Ia menyebutkan bahwa tahun ini tersedia anggaran sekitar Rp 70 miliar untuk situasi darurat.
“Pastinya bisa ya, untuk BTT kalau tidak salah, tahun ini kan ada anggaran, kalau tidak salah ya Rp70 miliar. Pasti bisa digunakan karena ini kan bencana alam juga termasuknya,” pungkasnya.
Karhutla di Kalimantan Tengah merupakan peristiwa tahunan yang dipicu oleh fenomena El Nino. Meski demikian, DPRD menilai kesiapsiagaan masih perlu ditingkatkan, terutama dalam hal respons cepat dan koordinasi lintas instansi di lapangan.