JAKARTA — Pemerintah Indonesia dan Australia menyepakati lima langkah strategis untuk mempercepat realisasi pengembangan pertanian modern di kawasan Dadahup, Kalimantan Tengah. Kesepakatan ini lahir dari pertemuan bilateral tertutup antara Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa.
Mentan menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Australia melalui Australian Water Partnership (AWP) yang telah memfasilitasi Expert Mission di kawasan Dadahup pada April 2026. Hasil kajian para ahli Australia memperkuat keyakinan bahwa Dadahup berpotensi menjadi model pertanian rawa modern di Indonesia.
Untuk mempercepat implementasi rekomendasi para ahli, Indonesia mendorong lima langkah strategis. Pertama, pembentukan Joint Technical Working Group. Kedua, penyusunan Integrated Water Management Masterplan and Roadmap Dadahup. Ketiga, penguatan tata kelola air berbasis petani.
Keempat, peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pemanfaatan teknologi digital seperti telemetry, remote sensing, dan decision support system. Kelima, pengembangan Dadahup sebagai Indonesia–Australia Demonstration Project dan laboratorium hidup pertanian rawa modern.
"Hasil kajian para ahli Australia menunjukkan Dadahup memiliki potensi besar menjadi model pertanian rawa modern. Rekomendasi yang diberikan sangat sejalan dengan prioritas Indonesia dalam mempercepat peningkatan Indeks Pertanaman (IP) 300 dan memperkuat ketahanan pangan nasional," ujar Mentan dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta.
Pemerintah menargetkan kawasan Dadahup mampu mencapai Indeks Pertanaman (IP) 300, artinya lahan bisa ditanami tiga kali dalam setahun. Saat ini, sebagian besar lahan rawa di Kalteng masih memiliki IP rendah karena keterbatasan infrastruktur irigasi dan tata kelola air.
Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, menegaskan bahwa laporan akhir hasil kajian para ahli Australia telah diserahkan kepada Menteri Pertanian. Laporan tersebut akan menjadi dasar penyusunan langkah lanjutan pengembangan kawasan.
"Kami berharap laporan ini dapat membantu Indonesia meningkatkan produktivitas kawasan Dadahup dan menjadikannya contoh pengembangan pertanian rawa modern," kata Brazier.
Selain membahas pengembangan Dadahup, pertemuan bilateral juga menghasilkan komitmen untuk memperkuat perdagangan pertanian Indonesia dan Australia. Dalam sektor peternakan, Mentan meminta dukungan Australia untuk menjaga ketersediaan pasokan sapi hidup ke Indonesia.
Berdasarkan data tahun 2025, total perdagangan sektor pertanian Indonesia dan Australia mencapai sekitar 3,2 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Nilai ekspor pertanian Indonesia ke Australia mencapai sekitar 203 juta dolar AS, sedangkan impor dari Australia sekitar 3 miliar dolar AS.
Ke depan, kedua negara sepakat memperluas kerja sama di bidang investasi, riset, inovasi, pengembangan sumber daya manusia, serta pupuk untuk mendukung pembangunan pertanian yang tangguh dan berkelanjutan. Brazier juga berharap proses perizinan impor dapat berjalan semakin lancar sehingga perdagangan pertanian kedua negara menjadi lebih efisien dan saling menguntungkan.